Inflasi Pangan Naik ke 4%, Destry Sebut Perlu Aksi Bersama Pemerintah dan BI

Rabu, 02 September 2026 | 06:55:00 WIB

LITERASIKEUANGAN.COM — Gubernur Bank Indonesia terpilih, Destry Damayanti, menyoroti tekanan inflasi pangan yang meningkat tajam pada Agustus 2026. Berdasarkan data BPS, inflasi bulanan tercatat 0,21%, berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli 2026.

“Volatile food inflation-nya lagi naik. Makanya memang BI bersama-sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah pusat, kita juga menangani program untuk pengendalian inflasi pangan,” ujar Destry dalam wawancara dengan awak media, Selasa (1/9).

Komponen Harga Pangan Bergejolak Meningkat Hingga 4%

Komponen volatile food—yang mencakup bahan pangan seperti cabai, bawang, dan beras—meningkat signifikan dari kisaran 2% menjadi sekitar 4% secara tahunan. Kondisi ini menjadi perhatian utama karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat.

“Tapi memang untuk volatile food-nya naik dari 2%an ke 4%. Jadi memang PR kita bersama-sama menjaga stabilitas di harga pangan,” tegas Destry.

Inflasi Inti Tetap Stabil, Tanda Aktivitas Ekonomi Berjalan

Berbeda dengan harga pangan, inflasi inti justru menunjukkan perbaikan. Destry menyebut komponen ini meningkat tipis dari sekitar 2,7% menjadi 2,9%.

“Kalau kita lihat core inflation-nya masih tetap stabil, dia malah meningkat dikit, artinya ada aktivitas ekonomi, dari 2,7 ke 2,9,” jelasnya.

Inflasi inti yang terjaga mencerminkan permintaan domestik yang masih sehat, sementara tekanan harga pangan menjadi masalah struktural yang membutuhkan koordinasi lintas lembaga.

Pengendalian Harga Pangan Jadi Prioritas BI dan Pemerintah

Destry menegaskan bahwa pengendalian harga pangan akan menjadi fokus bersama antara Bank Indonesia, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Program pengendalian inflasi pangan yang sudah berjalan perlu diperkuat, terutama di tengah meningkatnya tekanan pada komoditas pangan.

Koordinasi ini penting mengingat inflasi pangan memiliki efek berantai—mendorong kenaikan upah minimum, biaya transportasi, hingga harga barang jadi. Bagi investor, stabilitas harga pangan juga menjadi sinyal kesehatan ekonomi makro yang memengaruhi keputusan Bank Indonesia dalam kebijakan suku bunga.

Dengan inflasi inti yang masih terkendali, ruang kebijakan moneter tetap terbuka, namun tekanan harga pangan bisa menjadi pertimbangan tersendiri dalam rapat dewan gubernur mendatang.

Terkini