Studi Ungkap Bahaya Penggunaan Chatbot AI bagi Emosional Remaja

Selasa, 01 September 2026 | 00:05:02 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) [FOTO: NET].

JAKARTA - Sebuah studi mutakhir yang dimuat dalam jurnal JAMA Pediatrics menguak adanya korelasi yang mengkhawatirkan antara pemanfaatan chatbot kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan timbulnya problem emosional pada anak-anak serta kalangan remaja yang cenderung lebih rapuh terhadap dampak buruknya.

Merujuk laporan New York Post pada Senin (31/1) waktu setempat, riset tersebut mengandalkan survei yang melibatkan hampir 40.000 pelajar dari kelas empat hingga kelas 12 di wilayah Ontario, Kanada, berkaitan dengan pola penggunaan AI.

Lebih dari 21 persen pelajar mengaku memanfaatkan AI generatif untuk “tujuan afektif”, yang mengindikasikan upaya mencari sokongan emosional ataupun meminta masukan perihal relasi pertemanan dan keluarga.

Pemanfaatan chatbot demi tujuan tersebut terkorelasi erat dengan lonjakan skor problem emosional yang jauh lebih tinggi. Para pelajar tercatat hampir dua kali lipat lebih berisiko menghadapi indikasi tekanan emosional yang signifikan secara klinis.

Dampak negatif ini ternyata tidak dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok demografi. Korelasi antara penggunaan AI dan problem emosional terdeteksi lebih pekat pada kalangan siswi perempuan, pelajar dengan identitas gender beragam, serta kelompok pelajar kulit hitam, masyarakat adat, maupun kelompok minoritas rasial lainnya.

Tim periset juga mendapati bahwa anak muda yang mengandalkan AI demi merengkuh sokongan emosional melaporkan frekuensi rasa kesepian yang lebih tinggi serta merasa tidak “berarti” di hadapan orang lain. Sekalipun faktor-faktor pemicu tersebut telah disingkirkan dari proses analisis, korelasi antara pemanfaatan AI dan problem emosional tetap saja muncul.

Direktur divisi psikiatri anak dan remaja di Northwell Zucker Hillside Hospital serta Cohen Children’s Medical Center yang berlokasi di New York, Dr. Consuelo Cagande, menyatakan bahwa tren anak muda yang berpaling ke chatbot AI guna meredakan persoalan emosional merupakan suatu fenomena yang “sangat mengkhawatirkan”.

“Anak muda secara bertahap menggantikan kelompok sosial tradisional dan model pengobatan tradisional dengan chatbot dan algoritma ini,” kata Cagande, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Cagande menyoroti bahwa persoalan yang jauh lebih pelik mencakup minimnya regulasi perlindungan, ketiadaan tindak lanjut klinis, serta absennya protokol proteksi dalam situasi krisis bagi individu rentan yang memanfaatkan chatbot.

Pemanfaatan chatbot AI, menurut Cagande, dipilih oleh mereka kemungkinan besar didasari rasa takut akan dihakimi apabila harus mengutarakan problemnya kepada orang lain secara tatap muka. Kendati demikian, jika tetap ingin menggunakannya, mutlak diperlukan pengawasan ketat beserta edukasi seputar literasi digital dan pemanfaatan AI mengingat masih tingginya potensi disinformasi.

Menurut pandangan Cagande, teknologi tersebut idealnya difungsikan sekadar sebagai instrumen pelengkap. AI generatif sama sekali tidak boleh diposisikan sebagai rujukan primer yang dituju tatkala seseorang sedang menghadapi tekanan emosional ataupun problem kesehatan mental.

Lebih lanjut, ia menganjurkan agar langkah pertama dalam mencari pertolongan adalah dengan berkonsultasi kepada dokter yang mampu mengarahkan ke sumber bantuan yang tepat atau memberikan rujukan kepada tenaga ahli kesehatan mental, selain turut meminta dukungan dari para guru atau konselor bimbingan di lingkungan sekolah.

“Jika seorang anak memang menggunakan chatbot AI, mereka harus memberi tahu tenaga klinis mengenai informasi yang mereka dapatkan dari chatbot tersebut terkait masalah kesehatan mental mereka dan tidak serta-merta menganggapnya sebagai saran akhir,” ujar dia.

Terkini