Inflasi dan Neraca Dagang Jadi Ujian, IHSG dan Rupiah Diprediksi Sideways

Selasa, 01 September 2026 | 10:14:00 WIB

LITERASIKEUANGAN.COM — Dua data ekonomi utama dijadwalkan rilis pekan ini dan menjadi fokus utama pelaku pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi Agustus, yang diperkirakan berada di atas level 3 persen secara tahunan. Adapun neraca perdagangan Juli diproyeksikan masih mencatatkan defisit, meski nilainya berpotensi menyempit dibanding posisi bulan sebelumnya yang sebesar US$0,45 miliar.

"Pelaku pasar akan mencermati bagaimana arah inflasi dan neraca perdagangan. Kedua data tersebut akan menjadi tambahan sentimen bagi pasar keuangan domestik," kata Gunawan Benjamin, Pengamat Ekonomi Sumatera Utara.

Tekanan Eksternal Masih Membayangi Bursa

Sejak awal perdagangan Selasa (1/9), mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona merah. Ketidakpastian dari perkembangan geopolitik global menjadi pemicu utama aksi jual di kawasan tersebut.

Kondisi ini ikut menekan IHSG yang rawan koreksi, meski pada pembukaan sempat menguat ke level 6.538. "Tekanan pada pasar saham di kawasan Asia membuka ruang bagi IHSG untuk ikut ditransaksikan melemah," ujar Gunawan.

Rupiah Stabil, Dolar AS Masih Melemah

Di pasar valuta asing, rupiah bergerak relatif stabil di kisaran Rp17.710 per dolar AS. Pergerakan yang cenderung terbatas ini terjadi di tengah potensi tekanan dari data neraca perdagangan yang masih minus.

Namun, pelemahan dolar AS memberikan ruang bagi mata uang Garuda untuk bertahan. Indeks dolar AS (DXY) terpantau turun ke level 99,4, menjadi katalis positif yang menahan laju pelemahan rupiah.

Harga Komoditas Menanti Katalis Baru

Tensi geopolitik global yang relatif terkendali membuat harga komoditas utama cenderung datar. Minyak mentah berada di kisaran US$91 per barel, sementara emas dunia bergerak stabil di sekitar US$4.441 per troy ounce, setara Rp2,54 juta per gram.

"Belum terdapat katalis kuat yang mampu mendorong pergerakan harga emas secara signifikan," jelas Gunawan.

Kondisi serupa juga terlihat pada pasar saham dan valuta asing domestik. "Untuk sementara, rupiah, IHSG, maupun emas masih berpeluang bergerak dalam rentang yang terbatas, setidaknya selama sentimen baru belum muncul di pasar," pungkasnya.

Investasi mengandung risiko.

Terkini