Strategi CIMB Niaga Kerek Kredit UKM Hingga Rp28,5 T di Akhir 2026

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:07:31 WIB
Pegawai melayani nasabah di kantor cabang CIMB Niaga di Jakarta [FOTO: NET].

JAKARTA — Penyaluran kredit usaha kecil dan menengah (UKM) masih dihadapkan pada tantangan seiring terjadinya perlambatan pertumbuhan kredit perbankan. Kendati demikian, PT Bank CIMB Niaga Tbk tetap optimistis mampu memacu penyaluran pembiayaan pada segmen ini hingga pengujung tahun.

Head of Emerging Business Banking CIMB Niaga Tony Tardjo menyampaikan bahwa ekspansi kredit UKM di industri perbankan nasional masih terbilang terbatas. Namun, perseroan tetap sanggup mengukuhkan pertumbuhan positif pada segmen tersebut.

Mengacu data OJK yang dijadikan acuan perseroan, Tony mengutarakan bahwa pertumbuhan kredit UKM di pasar memang masih melaju lambat. Meski begitu, portofolio kredit UKM CIMB Niaga hingga Juni 2026 masih mencatatkan kenaikan 2,3% secara tahunan (year-on-year/yoy).

"Memang market-nya juga kelihatannya slow, tapi kami terus berusaha yang terbaik. UKM ini segmen penting untuk menumbuhkan GDP Indonesia," ujar Tony di sela-sela acara peluncuran CIMB Preferred BOSS (Business Owner Smart Solutions) dalam ajang CIMB Niaga Wealth Xpo 2026, Rabu (26/8/2028).

Menurut Tony, beragam stimulus pemerintah turut menopang dorongan pertumbuhan sektor UKM. Dari sisi perbankan, CIMB Niaga juga berkesinambungan menyiapkan program pembiayaan serta menawarkan suku bunga kompetitif guna mengakselerasi ekspansi kredit.

"Salah satu tantangan UKM kan suku bunga. Dengan suku bunga yang kompetitif diharapkan pertumbuhan loan bisa lebih cepat," katanya.

Berbekal strategi tersebut, CIMB Niaga membidik kredit UKM dapat tumbuh 7% hingga 8% sampai akhir tahun. Perseroan bakal menggenjot penyaluran kredit pada semester II/2026 lewat serangkaian program yang ditujukan kepada nasabah.

Saat ini, total portofolio kredit UKM CIMB Niaga menyentuh kisaran Rp27 triliun. Tony memproyeksikan portofolio ini sanggup merangkak naik menuju kisaran Rp28 triliun hingga Rp28,5 triliun pada akhir tahun.

"Kami harapkan paling tidak akhir tahun bisa bertambah Rp1 triliun, mungkin Rp28 triliun, Rp28,5 triliun. Tapi tentunya tetap menerapkan prinsip kehati-hatian," ujarnya.

Dari aspek kualitas aset, Tony memastikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) pada segmen UKM masih berada di level aman. Saat ini, NPL UKM CIMB Niaga berada di bawah 4%. Perseroan menargetkan rasio NPL segmen UKM dapat dipertahankan di bawah 3% melalui proses seleksi debitur yang lebih cermat.

"Kalau NPL tentunya serendah mungkin lebih baik. Tapi saya selalu ingin kalau bisa di bawah 3% untuk UKM," kata Tony.

Menurut Tony, menjaga kualitas kredit merupakan aspek krusial di tengah dinamika kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Kendati menerapkan penyeleksian ketat terhadap calon debitur, industri perbankan tetap harus memberikan sokongan via solusi pembiayaan yang presisi sesuai kebutuhan pelaku usaha.

Dilihat dari bidang usaha, Tony menilai sektor perdagangan serta manufaktur skala kecil masih menyimpan prospek pertumbuhan yang baik. Menurut Tony, mayoritas pelaku UKM beroperasi di sektor perdagangan seperti toko dan ritel, maupun manufaktur berskala lebih kecil.

"Kalau terutama di daerah, komoditasnya pertumbuhannya bagus, biasanya UKM-nya juga cukup maju," ujarnya.

Tony menimpali bahwa jangkauan jaringan operasional CIMB Niaga dari Sumatera sampai Papua menjadi salah satu pendukung utama diversifikasi pertumbuhan bisnis UKM perseroan.

Menanggapi fenomena perbankan yang makin selektif menyalurkan pinjaman, Tony menegaskan CIMB Niaga tetap mengakomodasi berbagai segmen nasabah, mulai dari individu, UKM, commercial banking, hingga corporate banking

Menurut Tony, perseroan tidak membatasi segmen tertentu, melainkan memastikan nasabah penerima fasilitas pembiayaan memiliki kebutuhan serta prospek bisnis yang jelas.

Adapun dari sisi pemanfaatan fasilitas kredit, Tony menyebut tingkat penyerapan (utilisation rate) kredit UKM CIMB Niaga berada pada rentang 60% sampai 70%. Angka tersebut dinilai berada dalam batas wajar mengingat dinamika kebutuhan modal kerja pelaku UKM bergerak fleksibel mengikuti aktivitas bisnis.

"Kalau UKM dengan aktivitas normal, naik turun sekitar 70% itu wajar. Yang penting kualitasnya tetap terjaga," pungkasnya.

Terkini