Rupiah Menguat ke Rp17.695 per Dolar AS, Sentimen Tarif Dagang Mulai Mereda

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:41:00 WIB

LITERASIKEUANGAN.COM — Penguatan rupiah pada pembukaan pasar Rabu ini menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan domestik yang pekan ini sempat tertekan oleh sentimen eksternal. Pergerakan ini sejalan dengan indeks dolar AS yang menunjukkan koreksi tipis di pasar Asia, memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat.

Data dari perdagangan antarbank Jakarta menunjukkan permintaan dolar AS mulai berkurang, seiring pelaku pasar yang menunggu rilis data inflasi AS yang dijadwalkan pekan ini. Angka inflasi tersebut akan menjadi penentu utama arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.

Faktor Eksternal yang Menopang Penguatan Rupiah

Pasar merespons positif pernyataan pejabat pemerintahan AS yang mengisyaratkan pembahasan ulang tarif impor untuk sejumlah negara mitra dagang utama. Sikap ini meredakan kekhawatiran eskalasi perang dagang yang selama ini menjadi beban utama bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Selain itu, imbal hasil obligasi treasury AS tenor 10 tahun turun tipis ke kisaran 4,2 persen. Penurunan imbal hasil ini mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar, sehingga aliran modal asing mulai kembali melirik pasar obligasi dan saham Indonesia.

Koreksi Dolar dan Dampaknya ke Pasar Domestik

Pelemahan dolar AS memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar tanpa harus melakukan intervensi agresif di pasar. Sebelumnya, BI tercatat cukup aktif menjual valas untuk menahan laju pelemahan rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp17.700 per dolar AS.

Di pasar saham, penguatan nilai tukar biasanya menjadi katalis positif bagi indeks harga saham gabungan (IHSG). Sektor yang paling diuntungkan dari penguatan rupiah antara lain perbankan, konsumer, dan properti, karena biaya impor bahan baku menjadi lebih murah.

Level Support dan Resistance yang Perlu Dicermati

Dari sisi teknikal, penguatan pagi ini menempatkan rupiah pada level support terdekat di Rp17.680 per dolar AS. Jika tekanan jual dolar berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah menguji level Rp17.650 dalam sesi perdagangan hari ini.

Sebaliknya, resistance terdekat berada di level Rp17.720 per dolar AS. Penembusan di atas level tersebut dapat membuka ruang pelemahan lebih lanjut, terutama jika data inflasi AS yang akan dirilis nanti malam ternyata lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan dolar di sesi Eropa dan Amerika nanti malam. Keputusan investor asing untuk masuk atau keluar dari pasar domestik akan sangat menentukan arah pergerakan rupiah hingga akhir pekan.

Investasi mengandung risiko.

Terkini