Tantangan Likuiditas BSI di Semester II 2026 dan Strateginya

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 18:19:32 WIB
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS). (Foto: NET)

JAKARTA - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) memandang, persaingan pengumpulan modal menjadi salah satu kendala utama sektor keuangan pada paruh kedua 2026. Situasi itu sejalan dengan kenaikan loan to deposit ratio (LDR) lembaga keuangan yang memperlihatkan persediaan dana semakin menyusut.

Pimpinan Tertinggi BSI Anggoro Eko Cahyo mengemukakan, LDR bank naik menjadi 88,32% pada Juni 2026 dari 84% pada penghujung 2025. Peningkatan tersebut memperlihatkan distribusi pinjaman berkembang lebih cepat daripada pengumpulan dana.

“Artinya penyaluran kredit tumbuh lebih cepat dibandingkan penghimpunan dana sehingga likuiditas mengetat dan kompetisi memperebutkan dana menjadi semakin ketat. Kondisi ini menjadi tantangan utama bagi kami di perbankan pada semester II/2026 ini,” kata Anggoro dalam Konferensi Pers Kinerja Kuartal II/2026 BSI secara virtual, Jumat (21/8/2026).

Sebaliknya, Anggoro mencatat aturan keuangan dalam negeri berjalan lebih ketat sepanjang triwulan II/2026. Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) dalam kurun waktu dua bulan, dari 4,75% menjadi 5,75%, guna memperkokoh ketahanan nilai tukar rupiah.

Konfirmasi kenaikan BI Rate tersebut terjadi tatkala suku bunga acuan Fed Fund Rate menetap di kisaran 3,75%. Berdasarkan pandangan Anggoro, kebijakan itu turut menghasilkan apresiasi nilai tukar rupiah dan merangsang kembalinya arus masuk modal asing ke Indonesia.

BI lantas mempertahankan BI Rate pada posisi 5,75% lewat Rapat Dewan Gubernur BI Juni 2026. Anggoro berpendapat langkah tersebut memancarkan sinyal baik terhadap situasi perekonomian yang mulai bangkit.

Walaupun menghadapi pengetatan moneter serta persediaan dana yang terbatas, Anggoro menyatakan bahwa struktur dasar ekonomi Indonesia tetap aman. 

Kenaikan harga pada Juni 2026 tercatat 3,34% secara tahunan, utamanya dipicu oleh lonjakan tarif energi serta bahan pokok. Meskipun demikian, inflasi inti masih terjaga pada batasan 2,76%.

Di sisi lain, perdagangan eceran kembali mencatatkan tren positif sebesar 0,9% pada Juli 2026 usai sebelumnya sempat mengalami penurunan 3,9%. Menurut Anggoro, kemajuan tersebut menjadi pertanda awal kebangkitan daya beli menyongsong paruh kedua 2026.

“Sebuah sinyal awal pemulihan permintaan memasuki semester 2 ini,” ujarnya.

Dari ranah global, S&P Global turut mengukuhkan peringkat Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang serta AAA untuk jangka pendek dengan prospek stabil per 13 Juli 2026. 

Anggoro menilai paduan fondasi ekonomi domestik yang senantiasa terpelihara serta pengakuan lembaga pemeringkat dunia tersebut memberi peluang bagi sektor perbankan guna terus menggenjot pembiayaan yang sehat serta merawat pencapaian berkesinambungan.

Terkini