JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) mencatatkan laba bersih mencapai Rp4,15 triliun, menguat 11,08% secara tahunan (year on year/YoY), ditopang oleh fee based income yang melesat signifikan pada kuartal II/2026.
Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengutarakan, fee based income BSI hingga kuartal II/2026 menyentuh Rp4,06 triliun atau terangkat tajam sebesar 38,16% (YoY) jika disandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
“Kami mampu membukukan laba Rp4,15 triliun yang tumbuh 11% (YoY) dan menariknya kalau kami lihat lebih detail itu driver utamanya salah satunya adalah fee based income kami yang meningkat hampir lebih daripada 38% (YoY),” ungkap Ade dalam Konferensi Pers Kinerja Kuartal II/2026 BSI secara virtual, Jumat (21/8/2026).
Secara terperinci, Ade membeberkan bahwa lonjakan fee based income yang sangat ekspansif tersebut membuat BSI untuk pertama kalinya mengantongi rasio fee based income menembus 22,54% pada Juni 2026.
Menurutnya, angka ini krusial bagi perseroan mengingat kondisi likuiditas saat ini terbilang cukup ketat sehingga berisiko menekan margin industri perbankan.
Lebih lanjut, dengan pertumbuhan fee based income mencapai 38,6% (YoY), Ade memaparkan bahwa lini bisnis emas BSI tumbuh amat ekspansif yaitu sebesar 92,45% (YoY) yang didorong oleh produk gadai serta tabungan emas yang masing-masing melesat sebesar 55,94% dan 765,75% (YoY) hingga Juni 2026.
Aktivitas treasury BSI turut mencatatkan tren yang sangat positif. Pada pemaparan yang disampaikan Ade, aktivitas treasury perseroan tumbuh sebesar 45,49% (YoY).
Di samping itu, jumlah pengguna BYOND yang terus melesat ikut memacu peningkatan fee based perseroan, berkisar 35% (YoY).
Ade menyebut, hal ini tak lepas dari pembenahan teknologi yang berdampak pada availability system dan lonjakan jumlah nasabah, yang berujung pada perolehan fee based income yang terus terangkat dan semakin baik dari waktu ke waktu.