Rayakan HUT RI, Maudy Ayunda Pakai Selendang Pucca Khas Toba

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:20:32 WIB
Maudy Ayunda [FOTO: NET].

JAKARTA - Figur publik Maudy Ayunda turut serta merayakan momen peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia dengan cara menampilkan keindahan serta kekayaan budaya Nusantara melalui balutan busana dan beragam kriya tradisional. 

Lewat unggahan di akun Instagram pribadinya pada hari Senin (17/8/2026), aktris yang kini berusia 31 tahun tersebut membagikan potret menawan dirinya saat mengenakan busana serbaputih yang dipadukan dengan selendang berwarna merah tersemat anggun di kedua sisi tubuhnya.

"Dirgahayu Indonesiaku ????????. Sharing Indonesian stories with @edo_thejourney. Ulos in Innovation," tulis Maudy Ayunda dalam keterangan unggahannya.

Potret tersebut merupakan bagian dari konsep artistik bertajuk “Ulos in Innovation” yang turut dipublikasikan oleh desainer kenamaan Edward Hutabarat. Salah satu elemen busana yang paling mencuri perhatian publik adalah penggunaan Selendang Pucca dari Toba yang dikenakan oleh Maudy.

Selendang Pucca dari Toba

Berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh Edward Hutabarat melalui unggahannya, Selendang Pucca yang ditampilkan dalam pemotretan tersebut merupakan sebuah benda bernilai vintage yang berasal dari kawasan Toba.

Menariknya, selendang tersebut ternyata memiliki fungsi asli yang berbeda jauh dari cara penggunaannya pada pemotretan Maudy. Edward menerangkan bahwa pada mulanya, selendang itu difungsikan sebagai bagian dari penutup kepala atau topi yang dikenakan oleh para penari tradisional Tor Tor. 

Tradisi tari Tor Tor sendiri diketahui memegang peranan yang amat penting di dalam tatanan kebudayaan masyarakat Batak. Di dalam pementasan tarian Tor Tor, para penari lazimnya mengenakan kain adat ulos yang diselempangkan secara rapi di bagian bahu mereka.

Kehadiran Sortali dari Karo

Selain mengenakan Selendang Pucca, Edward juga turut menampilkan Sortali asal Karo ke dalam rangkaian objek benda budaya yang menjadi bagian dari proyek pemotretan tersebut. Dalam keterangannya, Sortali diidentifikasi sebagai bentuk aksesori tradisional yang biasanya dipakai dengan cara diikatkan pada bagian dahi pengantin adat.

Pemanfaatan berbagai macam benda pusaka tradisional ini menjadikan sesi pemotretan Maudy tidak sekadar menonjolkan aspek mode atau fesyen semata, melainkan turut memperlihatkan fungsi historis serta kisah mendalam yang melekat pada masing-masing benda tersebut.

Menampilkan Lukisan Merah Putih

Tepat di latar belakang tempat Maudy berdiri, tampak sebuah lukisan berukuran besar yang didominasi oleh warna merah dan putih. Edward mengungkapkan bahwa karya seni tersebut memiliki judul “Great Power of Nusantara”, merupakan hasil ciptaan pelukis Yayat Surya yang dikerjakan pada tahun 2005 dengan menggunakan medium acrylic & mixed media on canvas berukuran 150 x 200 sentimeter.

Merujuk pada catatan penjelasan yang dibagikan oleh Edward, perpaduan warna merah dan putih di dalam lukisan tersebut terbagi ke dalam enam garis yang mendapat inspirasi dari simbol Hexagram 34 I Ching, yakni sebuah lambang yang merepresentasikan kekuatan serta perubahan. 

Warna merah di dalamnya merefleksikan makna semangat serta keberanian, sementara warna putih melambangkan nilai kemurnian serta keteguhan hati. Kedua warna utama tersebut kemudian ditempatkan sebagai simbol representasi dari keberagaman yang menjadi fondasi kekuatan utama Nusantara.

Patung Kayu dan Tandok

Tidak hanya berhenti pada penggunaan kain tradisional dan lukisan bernilai seni tinggi, sejumlah objek benda warisan budaya lainnya juga turut menghiasi latar belakang foto Maudy. Salah satu yang terlihat jelas adalah sebuah patung kayu berukir yang berdiri di sisi belakang. Edward menjelaskan bahwa patung tersebut pada masa lalu berfungsi sebagai wadah atau tempat penyimpanan uang bagi para raja di Samosir.

Tepat di bagian atas patung itu, diletakkan sebuah Tandok, yaitu kerajinan anyaman daun pandan asal Tarutung yang secara tradisional digunakan sebagai wadah untuk membawa hantaran makanan. Sementara itu, pada bagian bawah pemandangan foto tersebut, tampak pula sebuah gentong atau tempayan berukuran besar yang dibuat dari bahan kayu utuh. 

Edward menyebutkan bahwa benda tersebut telah berusia sekitar 100 tahun dan dikenal dengan sebutan Lumbung Eme, yang dahulu dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan persediaan beras atau padi oleh masyarakat di wilayah Samosir dan Tarutung.

Terkini