Peluang Bandara Nusantara IKN Menjadi Titik Embarkasi Haji dan Umrah

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:48:31 WIB
Kepala OIKN Basuki Hadimuljono. (Foto: NET)

JAKARTA - Bandara Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, berpotensi memiliki fungsi yang lebih luas ke depan. Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) tengah mendorong agar fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai titik embarkasi haji serta umrah bagi masyarakat di wilayah Kalimantan serta daerah Sulawesi di sekitarnya. 

Rencana itu telah didiskusikan oleh pihak OIKN bersama Kementerian Haji dan Umrah. Kepala OIKN Basuki Hadimuljono menyampaikan bahwa Bandara Nusantara mempunyai peluang untuk dikembangkan menjadi embarkasi karena basis calon jemaah dari sejumlah kawasan dinilai sangat memadai. 

Wilayah yang berpotensi menjadi basis jemaah mencakup Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, sampai beberapa daerah di Sulawesi.

"Saya sudah berkomunikasi dengan Menteri Haji, kalau bisa dipakai untuk embarkasi umrah dan haji," kata Basuki di kantor OIKN, Kalimantan Timur, Jumat (14/8/2026).

Berdasarkan keterangan Basuki, jumlah calon jemaah menjadi salah satu elemen krusial dalam pengembangan fasilitas embarkasi. Ia mengemukakan bahwa kebutuhan minimal untuk membentuk embarkasi haji berada di kisaran 400 jemaah.

"Karena hanya butuh 400 jemaah kalau mau jadi embarkasi haji. Jadi kalau Kaltara, Kaltim, Kalsel pasti sudah lebih, belum nanti Sulawesi yang dekat-dekat sini," ujarnya.

Meskipun mempunyai potensi sebagai embarkasi haji dan umrah, pemanfaatan Bandara Nusantara guna penerbangan komersial masih menantikan proses peralihan status bandara. 

Saat ini, Bandara Nusantara menyandang status sebagai Bandar Udara Khusus. Status tersebut mengakibatkan penggunaannya masih terbatas untuk kategori penerbangan tertentu, seperti penerbangan kenegaraan, pesawat instansi pemerintah, serta penerbangan charter dan private flight. 

Basuki menuturkan bahwa pihak OIKN tetap menanti penerbitan peraturan presiden (Perpres) yang esensial guna mengubah status Bandara Nusantara menjadi bandara komersial. 

Transformasi status ini merupakan salah satu tahapan penting agar bandara sanggup melayani penerbangan penumpang secara lebih luas, termasuk membuka peluang rute penerbangan haji dan umrah.

"Untuk itu tinggal kita menunggu Perpres untuk mengubah bandara khusus menjadi bandara komersial," kata Basuki.

Bandara Nusantara merupakan salah satu proyek strategis guna menunjang konektivitas IKN. Pembangunannya memuat nilai investasi sekitar Rp4,3 triliun yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Fasilitas ini dilengkapi landasan pacu atau runway sepanjang 3.000 meter dengan lebar 45 meter. 

Spesifikasi tersebut memungkinkan Bandara Nusantara melayani pesawat berbadan lebar, termasuk jenis Boeing 777-300ER serta Airbus A380 dalam kondisi tertentu. 

Di sisi udara, bandara memiliki apron yang sanggup menampung tiga pesawat berbadan lebar secara bersamaan. Sementara itu, bangunan terminal penumpangnya mempunyai luas sekitar 7.350 meter persegi. 

Bandara Nusantara pun telah terdaftar di International Civil Aviation Organization (ICAO) melalui kode WALK. Kendati demikian, selama masih berstatus Bandar Udara Khusus, operasional bandara belum dibuka bagi penerbangan komersial secara umum. 

Oleh sebab itu, perubahan status menjadi Bandara Umum bakal menjadi faktor penentu dalam mengarahkan pengembangan fungsi Bandara Nusantara, termasuk kemungkinan menjadikannya embarkasi haji dan umrah.

Selain membuka peluang sebagai embarkasi haji dan umrah, Bandara Nusantara juga mulai menarik minat para pelaku industri penerbangan. Lion Group berniat membangun pusat pelatihan sekaligus fasilitas maintenance, repair and overhaul (MRO) di sekitar kawasan Bandara Nusantara. 

Rencana tersebut memerlukan alokasi lahan sekitar 30 hektare. Basuki memaparkan bahwa rencana penanaman modal dari Lion Group turut memperhitungkan karakteristik landasan pacu serta prospek pengembangan Bandara Nusantara yang dinilai cakap menopang operasional pesawat berbadan lebar.

"Lion Group melihat bandara ini sangat prospek karena panjangnya sekitar 3 kilometer dan lebarnya 45 meter, sehingga bisa untuk pesawat berbadan lebar. Mereka ingin membangun MRO sekitar 30 hektare," jelasnya.

Menurut pandangan Basuki, transformasi status menjadi bandara komersial kelak bakal memperluas fungsi Bandara Nusantara. 

Di samping menjadi elemen dari konektivitas IKN, lapangan terbang tersebut berpotensi memenuhi kebutuhan penerbangan haji dan umrah bagi masyarakat di Kalimantan serta daerah sekitarnya. 

Melalui sokongan jumlah calon jemaah dari Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, beserta sejumlah kawasan Sulawesi, OIKN memandang bahwa Bandara Nusantara mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu gerbang keberangkatan jemaah haji dan umrah di wilayah Indonesia tengah.

Terkini