Rutin Menari Ternyata Efektif Cegah Demensia Seiring Bertambah Usia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 02:39:02 WIB
Ilustrasi sepatu penari [FOTO: NET].

JAKARTA - Menari ternyata bukan sekadar aktivitas fisik yang sekadar ditujukan untuk menjaga kebugaran tubuh semata. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas yang memadukan unsur gerakan, alunan musik, daya ingat, serta koordinasi fisik ini juga memiliki potensi besar dalam membantu memelihara fungsi kognitif otak seiring dengan bertambahnya usia seseorang.

Mengutip dari ulasan Harper's Bazaar, kegiatan menari melibatkan otak untuk bekerja dalam banyak aktivitas secara bersamaan, mulai dari menghafal urutan langkah gerakan, menyelaraskan diri dengan irama, menjaga koordinasi tubuh, hingga kemampuan beradaptasi ketika melakukan kesalahan gerak.

Berkat mekanisme tersebut, menari kini mulai dilirik dan diperhitungkan sebagai salah satu alternatif aktivitas positif yang mampu menopang kesehatan otak serta membantu menghadapi risiko penurunan fungsi kognitif.

Mengapa Menari Baik untuk Otak?

Seorang penari sekaligus koreografer profesional, Angela Trimbur, mengungkapkan bahwa proses mempelajari suatu koreografi menuntut otak untuk senantiasa berhadapan dengan berbagai pola dan gerakan baru yang dinamis.

“Ketika kami belajar koreografi, kami meminta otak untuk melakukan begitu banyak hal sekaligus: mengingat urutan gerakan, memproses musik, mengoordinasikan gerakan, beradaptasi ketika kami membuat kesalahan, dan tetap fokus pada orang lain di ruangan,” kata Trimbur.

Menurut pandangannya, proses kompleks tersebut mampu menjadi sarana latihan yang sangat ideal bagi otak, sebab seseorang tidak sekadar melakukan gerakan motorik secara berulang-ulang, melainkan juga terus menerus menyerap dan mempelajari hal-hal baru.

Direktur Women's Brain Initiative sekaligus Alzheimer's Prevention Program di Weill Cornell Medicine, Lisa Mosconi, turut berpendapat bahwa perpaduan antara aktivitas fisik dan proses pembelajaran merupakan inti sari dari manfaat utama seni tari.

“Gerakan baru bukan sekadar olahraga. Ini adalah olahraga ditambah pembelajaran. Dan kombinasi itu tampaknya sangat ampuh untuk menjaga kesehatan otak seiring bertambahnya usia,” ujar Mosconi.

Dengan demikian, khasiat kesehatan dari menari tidak hanya bersumber dari aktivitas fisiknya saja, melainkan juga dari tantangan mental yang timbul tatkala seseorang harus beradaptasi untuk mempelajari ragam gerakan baru.

Penelitian Menunjukkan Manfaat pada Fungsi Kognitif

Berbagai manfaat luar biasa tersebut juga diperkuat oleh temuan riset yang terangkum dalam sebuah kajian meta-analisis terhadap 10 studi terpisah dengan melibatkan hampir 1.000 orang peserta.

Hasil analisis data tersebut memperlihatkan bahwa terapi tari memiliki korelasi erat dengan peningkatan fungsi kognitif secara menyeluruh—termasuk kemampuan fungsi eksekutif serta berbahasa—disertai pula dengan perbaikan signifikan pada gejala depresi serta beberapa gangguan neuropsikiatri lainnya.

Pendiri program Dance for PD, David Leventhal, menuturkan bahwa aktivitas tari secara simultan turut melibatkan berbagai sistem kerja tubuh serta panca indera secara bersamaan.

“Tari menantang memori, perhatian, fungsi eksekutif, koordinasi motorik, dan kognisi sosial secara bersamaan,” jelas Mosconi.

Ia pun menilai bahwa unsur kesenangan (fun) yang terkandung di dalam aktivitas ini memegang peran krusial, sebab kegiatan yang mendatangkan rasa gembira cenderung lebih mudah untuk dijalani secara konsisten dalam rentang waktu yang panjang.

Bukan Sekadar Menghafal Gerakan

Tantangan di dalam dunia seni tari ternyata tidak berhenti sebatas kemampuan menghafal rangkaian koreografi saja. Menurut pandangan Trimbur, variasi gerakan baru memaksa seseorang untuk keluar dari zona nyaman pola gerak fisik yang biasa mereka lakukan dalam rutinitas harian.

Tubuh diajak untuk berpindah arah secara dinamis, mengikuti tempo ritme yang berbeda-beda, hingga menjajal aneka bentuk postur gerakan yang tidak biasa.

Rangkaian proses adaptasi ini berkaitan erat dengan konsep neuroplastisitas, yakni kapasitas alami otak untuk melakukan penyesuaian diri serta membangun jaringan koneksi saraf yang baru berdasarkan pengalaman-pengalaman motorik yang diperoleh.

“Orang-orang yang tampak paling bersemangat seiring bertambahnya usia tidak hanya terus berolahraga. Mereka terus belajar. Mereka terus hidup dalam kejutan,” ujar Trimbur.

Di samping faktor gerakan fisik dan proses pembelajaran kognitif, keikutsertaan dalam kegiatan tari bersama kelompok lain turut menyumbangkan manfaat dari sisi sosial. Keterlibatan aktif di dalam komunitas dinilai sebagai salah satu faktor pelindung yang efektif untuk menangkal risiko penurunan fungsi kognitif.

Menari Saja Tidak Cukup

Kendati menyimpan segudang potensi khasiat bagi kesehatan organ otak, menari bukanlah satu-satunya jenis aktivitas tunggal yang wajib dilakukan demi menjaga ketajaman fungsi kognitif secara optimal.

Seorang pelatih kesehatan otak di Pacific Neuroscience Institute, yakni Ryan Glatt, menyarankan agar variasi aktivitas fisik tetap dijaga keragamannya, yang mencakup latihan kekuatan otot, senam yoga, olahraga tenis meja, ataupun jenis latihan aerobik penunjang kebugaran lainnya.

Dengan kata lain, menari sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu elemen pelengkap di dalam kerangka gaya hidup aktif, dan tidak dipandang sebagai satu-satunya cara mutlak untuk mencegah timbulnya penyakit demensia.

Mosconi turut mengingatkan agar setiap orang tidak perlu menunggu hingga usia lanjut tiba untuk mulai membiasakan diri melakoni berbagai aktivitas yang mendukung kesehatan otak.

Ia menyebut fase transisi menopause sebagai salah satu rentang waktu krusial bagi kaum perempuan untuk mulai membangun fondasi kebiasaan positif bagi kesehatan otaknya.

Oleh sebab itu, seseorang tidak harus berstatus sebagai penari profesional untuk bisa memetik buah manfaat dari aktivitas ini. Mengikuti kelas tari secara berkala, menghafal variasi koreografi anyar, atau sekadar mencoba aliran tarian yang belum pernah dikuasai sebelumnya sudah cukup menjadi langkah awal yang baik agar fisik dan otak senantiasa aktif.

Terkini