JAKARTA - Harga minyak mentah merosot pada perdagangan Kamis (13/8/2026), tertekan oleh pemangkasan proyeksi permintaan minyak 2026 oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta International Energy Agency (IEA).
Menukil OilPrice, harga minyak mentah Brent merosot 1,25% atau 1,11 poin ke level US$87,87 per barel pada pukul 16.32 WIB. Adapun harga minyak West Texas Intermediate (WTI) jatuh 1,32% ke US$82,17 per barel.
Tekanan terhadap harga minyak pun datang dari laporan persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang menampilkan kenaikan jauh lebih besar dari estimasi. Data Energy Information Administration (EIA) mencatat persediaan minyak mentah AS melonjak 17,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus.
Kenaikan tersebut membawa stok komersial minyak mentah AS menjadi 424,4 juta barel atau hanya sekitar 2% di bawah rata-rata lima tahun untuk periode yang sama.
Lonjakan persediaan terutama dipicu oleh kenaikan impor minyak mentah AS sebesar 1,14 juta barel per hari secara mingguan. Pada saat yang sama, ekspor minyak mentah turun 627.000 barel per hari hingga 7 Agustus.
Dari sisi permintaan, IEA memangkas proyeksi permintaan minyak 2026 dalam laporan bulanannya pada Agustus. IEA memperkirakan permintaan minyak bakal turun 1,6 juta barel per hari tahun ini, lebih rendah 510.000 barel per hari dibandingkan proyeksi dalam laporan Juli.
Proyeksi tersebut memperhitungkan dampak penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan. IEA menilai kembali memanasnya konflik pada akhir Juli serta kebuntuan dalam perundingan AS-Iran berpotensi menekan permintaan lebih dalam akibat kenaikan harga minyak yang lebih tinggi dari estimasi sebelumnya.
OPEC juga memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak 2026. Kendati demikian, berbeda dengan IEA, OPEC masih memperkirakan permintaan bakal tumbuh.
OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak 2026 menjadi 580.000 barel per hari dari proyeksi sebelumnya sebesar 780.000 barel per hari pada laporan Juli.
Sentimen penekan dari OPEC dan EIA melampaui dorongan harga minyak dari risiko pelayaran di Timur Tengah masih menjadi perhatian, sementara proyeksi permintaan yang lebih lemah serta peningkatan stok minyak mentah AS memberikan tekanan bearish terhadap harga.
Di sisi lain, kebuntuan perundingan AS-Iran dan risiko terhadap pengiriman minyak melalui kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor yang membatasi tekanan penurunan harga minyak lebih dalam.