JAKARTA - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa pemerintah menyatakan aturan meliburkan sekolah karena dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bersifat situasional serta diselaraskan dengan situasi di setiap wilayah.
Dia menyampaikan Istana sudah menjalankan koordinasi bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengenai upaya penanganan dampak karhutla, mencakup penyesuaian aktivitas sekolah apabila keadaan di lokasi dipandang berbahaya.
"Bilamana dirasa di lapangan untuk disesuaikan, ya kami tidak ada masalah. Jadi disesuaikan dengan kondisi di daerah masing-masing," ujar Prasetyo di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/8/2026).
Berdasarkan pandangannya, ketetapan menyangkut kegiatan sekolah wajib memperhatikan situasi di tiap-tiap daerah. Pemerintah menyerahkan kewenangan kepada pihak yang menguasai keadaan lapangan guna mengambil tindakan taktis sesuai keperluan.
"Iya dong, ya kami lihat situasional di lapangan," ucapnya.
Dia menggarisbawahi penanggulangan karhutla menjadi fokus utama. Pemerintah pusat sudah berkoordinasi dengan berbagai unsur guna menjamin keperluan penanganan di lokasi, baik secara administratif maupun logistik, tidak menemui hambatan.
Lebih lanjut, Prasetyo memaparkan kemajuan penanggulangan karhutla pada beberapa kawasan. Pada area Bromo, contohnya, merujuk laporan terkini masih ada dua titik api yang sedang ditangani.
Situasi iklim yang kering akibat gejala El Nino menjadi salah satu hambatan dalam tahapan pemadaman. Oleh sebab itu, Prasetyo menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang ikut serta dalam penanggulangan karhutla, mulai dari TNI, Polri, relawan sampai warga.
Di samping pemadaman, pemerintah menyerukan warga supaya mencegah timbulnya titik api baru. Warga diminta tidak membuang puntung rokok serta korek api secara sembarangan dan menjauhi pembukaan lahan lewat cara membakar.
Menurut dia, penanggulangan karhutla memerlukan kolaborasi seluruh pihak agar kebakaran dapat segera dipadamkan sekaligus membendung meluasnya titik api baru.
Dia menuturkan penyesuaian kegiatan pun sanggup diterapkan pada aktivitas lain yang terimbas karhutla. Sebelumnya, kegiatan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pun sempat dihentikan karena situasi di lokasi.
"Tidak hanya anak sekolah ya, seperti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru kemarin kan juga secara operasional kemudian ditutup kan gitu. Itu kan situasional aja. Artinya taktis di lapangan kami berikan izin kepada teman-teman yang memang mengerti betul kondisi di lapangan," imbuh Prasetyo.