Hadapi Geopolitik, Maskapai Sesuaikan Rute demi Efisiensi Biaya Avtur

Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:52:02 WIB
Perusahaan penerbangan dalam negeri menerapkan sejumlah taktik pada semester II/2026, guna meredam dampak dari kenaikan harga bahan bakar akibat tensi politik global di Timur Tengah. (Foto: NET)

JAKARTA - Perusahaan penerbangan dalam negeri menerapkan sejumlah taktik pada semester II/2026, guna meredam dampak dari kenaikan harga bahan bakar akibat tensi politik global di Timur Tengah. 

Contohnya, melalui penghematan avtur serta penyesuaian rute. Maskapai pelat merah pun, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA), tak luput dari beban tersebut.

Corporate Secretary Group Head Garuda Indonesia Andreas Tumpal H. Hutapea menyampaikan, kenaikan harga bahan bakar dan kondisi geopolitik merupakan faktor eksternal yang dihadapi seluruh pelaku industri penerbangan, baik nasional maupun global. 

Kondisi tersebut pun berpotensi membebani biaya operasional maskapai. Untuk itu, Garuda Indonesia mengambil langkah optimalisasi jaringan dan kapasitas berdasarkan profitabilitas rute, meningkatkan utilisasi dan produktivitas armada, serta menjalankan program efisiensi konsumsi bahan bakar.

“Perseroan juga melakukan optimalisasi profil dan perencanaan penerbangan, pengendalian biaya operasional, serta memperkuat pendapatan melalui berbagai inisiatif komersial dan ancillary revenue,” tulisnya dalam keterbukaan informasi, Senin (10/8/2026).

Sementara itu, Direktur Utama PT Transnusa Aviation Mandiri (TransNusa) Bayu Sutanto menyebutkan bahwa opsi efisiensi avtur menjadi keharusan dengan berbagai metode. 

Mulai dari flying technique sampai dengan refueling. Penghematan konsumsi avtur juga dilakukan dengan pengelolaan rute serta pemilihan jam kedatangan dan keberangkatan di suatu bandara. 

Menurutnya, sektor penerbangan masih akan terus tertekan apabila harga minyak dunia enggan turun ke harga sebelum perang di Iran berlangsung.

“Industri airline akan sehat saat harga crude oil dunia di kisaran US$50—US$70 sehingga biaya operasi wajar dan harga tiket tidak mahal yang akan meningkatkan demand,” ujarnya kepada Bisnis.

Bukan hanya efisiensi dari sisi bahan bakar dan optimalisasi rute, Director Indonesia Affairs and Strategic Communications AirAsia Indonesia Eddy Krismeidi menyebutkan bahwa penting untuk maskapai dapat bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menjaga dan meningkatkan demand. 

Salah satunya, yakni dengan membangun kerja sama yang lebih erat dengan pemerintah, dan pemerintah daerah, khususnya dinas pariwisata untuk memperkenalkan potensi wisata di daerah melalui berbagai kegiatan, misalnya familiarization trip.

Kerja samanya juga dapat dikembangkan dalam bentuk kampanye destinasi, promosi bersama, atau menghubungkan penerbangan dengan paket wisata yang ditawarkan oleh daerah maupun pelaku industri pariwisata. 

Menurutnya, tugas maskapai bukan hanya menyediakan penerbangan, tapi juga bagaimana bersama-sama menciptakan alasan bagi orang untuk terbang ke suatu destinasi.

“Kalau demand terhadap destinasinya tumbuh, tentunya akan ikut mendukung keberlangsungan dan keterisian penerbangan. Ini yang menurut kami penting untuk menjaga resiliensi maskapai di tengah kondisi eksternal yang memang cukup dinamis,” ucap Eddy.

Satu hal yang penting, kata Eddy, fokus perusahaan adalah menjaga biaya operasional tetap efisien sehingga masyarakat tetap dapat menikmati layanan dengan tarif yang kompetitif. 

Meski demikian, maskapai tersebut pun turut menaruh harapan pada momentum di akhir semester II/2026 nanti, di tambah dengan rencana pemerintah memberikan diskon tarif tiket pesawat domestik, mampu mendongkrak jumlah penumpang.

Tekanan dari sisi penumpang maupun maskapai tercermin dari kinerja penumpang angkutan udara domestik dan internasional, di saat moda lainnya dengan tarif yang lebih murah terus tumbuh positif pada paruh pertama 2026. 

Badan Pusat Statistik (BPS) membukukan jumlah penumpang angkutan udara domestik terkoreksi sebesar -2,41% secara tahunan (year on year/YoY) pada periode Januari—Juni 2026, dari 28,69 juta orang menjadi 27,99 juta orang. 

Khususnya terjadi di Bandara Internasional Juanda (SUB) di Surabaya, dengan jumlah penumpang menurun dari 2,53 juta orang pada semester I/2025, menjadi 2,39 juta orang atau menurun -5,50% YoY.

Pada periode yang sama, keberangkatan penumpang penerbangan internasional juga mengalami koreksi sebesar -0,38% YoY. Khususnya di Bandara Hasanuddin (UPG) Makassar dan I Gusti Ngurah Rai (DPS) di Bali, yang masing-masing terkoreksi sebesar -2,43% YoY dan -2,30%. 

Tak heran, penurunan jumlah penumpang pesawat juga sejalan dengan konsumsi rumah tangga yang melambat pada kuartal II/2026. Meski demikian, pelemahan paling besar terjadi pada penerbangan domestik, yang menunjukkan bahwa harga relatif dan peralihan moda sama pentingnya dengan perlambatan konsumsi agregat.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede melihat, konsumsi rumah tangga turun dari pertumbuhan 5,52% pada kuartal I/2026 menjadi 5,06% pada kuartal II/2026. 

Pelemahan juga terlihat pada pengeluaran transportasi dan komunikasi yang melandai dari 6,91% menjadi 5,71%. 

Menurutnya, transportasi penumpang sangat peka terhadap pendapatan yang tersisa setelah kebutuhan pokok terpenuhi. Ketika rumah tangga harus mengalokasikan lebih banyak dana untuk makanan, perumahan, pendidikan, energi, dan cicilan, perjalanan wisata atau kunjungan keluarga menjadi salah satu pengeluaran yang lebih mudah dikurangi.

“Masyarakat juga dapat beralih dari pesawat menuju kereta, kapal, bus, atau kendaraan pribadi yang dinilai lebih terjangkau,” tuturnya.

Pengamat Penerbangan sekaligus Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (Apjapi) Alvin Lie melihat, saat ini industri penerbangan bukan lagi dalam kondisi tidak baik-baik saja, melainkan memasuki masa kritis. 

Setidaknya selama empat bulan, Agustus hingga November, maskapai menghadapi tekanan harga bahan bakar dan rupiah serta ditambah masa low season.

“Ini masa-masa kritis empat bulan ke depan. Semoga dalam waktu dekat ada perbaikan tarif batas atas [TBA], sehingga maskapai kami ini bisa agak punya ruang bernapas,” ungkapnya.

Meski harga avtur berangsur turun, angkanya masih lebih tinggi dari sebelum kondisi Iran dengan AS semakin memanas. Belum lagi, TBA yang belum dilakukan penyesuaian selama tujuh tahun ikut menekan napas maskapai.

“Sehingga apa yang terjadi sebenernaya adalah penysuutan modal kerja maskapai penerbangan nasional,” tambah Alvin.

Meski demikian, ada secercah harapan bagi maskapai untuk sedikit pulih pada semester II/2026. Dalam kondisi normal, umumnya kenaikan jumlah penumpang pesawat mulai terlihat pada pertengahan November hingga pertengahan Januari. 

Apabila pada masa tersebut terjadi kenaikan jumlah penumpang, tidak ada lagi fluktuasi harga avtur, nilai tukar rupiah terhadap dolar tidak terus merosot, tekanan selama semester awal ini akan berkurang.

“Kalau kenaikan penumpang signifikan, dan harga tiket bisa wajar bagi maskapai dan penumpang, itu tentunya akan sangat menolong maskapai penerbangan,” ujarnya.

Sementara apabila yang terjadi sebaliknya, akan sulit bagi maskapai bertahan hidup pada tahun berikutnya. Penutupan layanan pada sejumlah rute pun berpotensi tak terhindarkan dan berdampak pada konektivitas yang terganggu.

Terkini