Penyebab Aset Investasi Menyusut di Tengah Lonjakan Investor Pasar Modal

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:04:31 WIB
Warga melintas di dekat papan informasi saham di gedung PT Bursa Efek Indonesia (BEI) [FOTO: NET].

JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan deretan alasan yang membuat nilai aset investasi menyusut meski kuantitas investor pasar modal melambung di sepanjang 2026. Fenomena unik dalam korelasi nilai aset dan angka investor ini memicu tanda tanya terkait seberapa tangguh basis investor pasar modal domestik dalam menopang pendalaman pasar di tengah reformasi yang digulirkan OJK, BEI, dan SRO lainnya.

Mengacu pada data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), total investor pasar modal hingga akhir semester I/2026 menyentuh 28,96 juta single investor identification (SID), melesat 70,45% yoy dari posisi 16,99 juta SID pada akhir Juni 2025. Sebaliknya, nilai aset investor yang tercatat di C-BEST KSEI per akhir Juni 2026 tercatat sebesar Rp9.897 triliun, terkikis dari posisi Rp12.178 triliun per akhir Juni 2025. Secara year to date (YtD), nilai aset sepanjang semester I/2026 tersebut telah merosot 29,45%.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi menilai tergerusnya aset tersebut salah satunya dipengaruhi oleh kejatuhan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun.

"Kalau dibandingkan angka total asetnya sendiri ada penurunan, betul. Tapi itu murni karena memang harga-harga saham kami secara komposit maupun individual di tahun ini memang mengalami penurunan yang cukup signifikan," kata Hasan saat ditemui Bisnis di Gedung BEI, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Mencermati kondisi pasar, IHSG hingga penutupan perdagangan 7 Agustus 2026 telah terkoreksi 25,87% YtD, yang memangkas nilai kapitalisasi pasarnya menjadi Rp11.212 triliun.

"Jadi penurunan total jumlah aset tercatat di KSEI itu bukan karena penambahan dari investor, tapi lebih karena penurunan angka market cap atau jumlah total aset keseluruhan di pasar modal belum diimbangi dengan penambahan modal baru yang masuk dari jumlah investor yang cukup besar ini," kata Hasan.

Hasan menerangkan terdapat dua faktor yang mampu mendongkrak kembali nilai aset investor. Pertama, rebound harga saham di bursa yang sanggup mengangkat nilai kapitalisasi pasar. Kedua, peningkatan partisipasi dari investor baru.

Data KSEI merekam bahwa komposisi investor pasar modal hingga semester I/2026 didominasi oleh investor ritel, yaitu mencapai 28,90 juta SID. Dari jumlah itu, sebesar 57,40% berlatar belakang pegawai negeri, swasta, dan guru. Menilik sisi usia, 54,12% merupakan investor berumur di bawah 30 tahun, dan 32,92% merupakan investor dengan latar belakang pendidikan SMA ke bawah.

Melihat struktur tersebut, OJK memandang pentingnya edukasi dan literasi yang gencar, terkhusus bagi para investor baru.

"Bagaimana upaya bersama mengubah dari saving society, masyarakat yang sudah baik yang gemar menabung, tapi tidak cukup, kami coba konversi dan undang mereka untuk menjadi investing society, masyarakat yang gemar berinvestasi," kata Hasan.

Kedua, OJK menilai perlu ada dorongan partisipasi yang lebih besar dari investor institusi domestik di pasar modal yang saat ini porsinya masih berada di bawah 10%. Merujuk data KSEI, jumlah investor korporasi semester I/2026 baru menyentuh 35.137, investor reksa dana 10.331, dana pensiun baru 1.703, lembaga keuangan 1.703, serta investor dari perusahaan asuransi baru sebanyak 590.

"Jadi investor institusi domestik adalah kunci. Investor domestik institusi kami harapkan akan semakin hadir dan memanfaatkan sarana investasi di pasar modal yang tentu kami harapkan semakin sejalan dengan tujuan investasi mereka," pungkasnya.

Terkini