Prabowo Minta Perbandingan Pendidikan Indonesia Singapura Harus Proporsional

Jumat, 07 Agustus 2026 | 20:59:31 WIB
Presiden Prabowo Subianto. (Foto: NET)

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto meminta supaya perbandingan sistem pendidikan Indonesia dengan Singapura dilihat secara proporsional dikarenakan kedua negara mempunyai tantangan yang sangat berbeda, terkhusus dari sisi luas wilayah, jumlah penduduk, serta cakupan layanan pendidikan. 

Hal tersebut diutarakan Presiden saat memberikan taklimat dalam agenda Pertemuan Presiden RI dengan 150 Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Halaman Tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026). 

"Kalau Singapura saya nggak terlalu-nggak usah kita terlalu khawatir kok, hanya negara 5 juta kok, satu kota, ya kan. Kalau Menteri Pendidikan Singapura itu sebetulnya nggak bisa dibandingkan dengan Menteri Pendidikan Indonesia," kata Prabowo.

Kepala Negara menjelaskan Indonesia mempunyai sekitar 388.000 sekolah yang tersebar hingga ke daerah pegunungan, pulau-pulau terluar, serta wilayah terpencil. Kondisi itu menjadikan tantangan pengelolaan pendidikan nasional jauh lebih rumit dibandingkan negara dengan wilayah yang lebih kecil. 

"Indonesia punya 388.000 sekolah kalau tidak salah, nanti dicek ya. Ada di tengah gunung, ada di pulau terluar. Jadi bagaimana memberi pendidikan yang terbaik untuk Indonesia," ujarnya.

Menurut Prabowo, tantangan serupa juga dirasakan pemerintah daerah dalam memastikan layanan pendidikan menjangkau seluruh wilayah. 

"Jangankan Indonesia, mungkin Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara atau Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Utara, bagaimana dia harus mengecek sekolah-sekolah di Miangas, di pulau-pulau terpencil," katanya.

Meskipun mengakui keberhasilan Singapura dalam membangun sistem pendidikan, Prabowo menilai kondisi negara tersebut tidak dapat disamakan dengan Indonesia. 

"Singapura oke dia berhasil di satu kota, ya kan. Menteri Pendidikan tinggal keliling seluruh Singapura mungkin dua jam dia bisa cek hampir semua sekolah di situ, terjangkau dari kantor dia. No, it's real, it's reality, dia berhasil, tapi kesulitan kita sangat besar," ujar Presiden.

Walaupun demikian, Prabowo menegaskan perbedaan tantangan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti mengejar ketertinggalan di sektor pendidikan. 

"Ini tidak boleh alasan bahwa kita menilai bahwa kami tidak perlu kejar ketertinggalan. Ini saya sampaikan ini yang saya katakan realita," katanya.

Presiden juga mengingatkan agar Indonesia terbuka terhadap kritik serta penilaian dari pihak luar, namun tetap memahami konteks tantangan yang dihadapi sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang sangat luas. 

"Ini orang luar lihat kita, ya kita boleh kami terima tapi kita jangan terlalu juga terlalu takut. Dia hanya lihat gambar dari luar, dia nggak lihat kesulitan-kesulitan yang kami hadapi sebagai negara yang sangat besar. Jadi ini yang saya maksud, sudah kita terima ini sebagai katakanlah peringatan, koreksi, dan kita cari bagaimana kita akan atasi," ujar Prabowo.

Terkini