Stella Christie Dorong Mahasiswa Baru ITS Kritis Terhadap AI

Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:20:31 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI Prof Stella Christie PhD [FOTO: NET].

JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI Prof Stella Christie PhD mengimbau mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) agar berpikir secara kritis dalam menghadapi gegap gempita teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

“Jadi mahasiswa ITS diharapkan mampu menjadi insan yang tangguh, inovatif, dan tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi,” katanya di hadapan ribuan peserta Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ITS 2026 di GOR Pertamina ITS Surabaya, Rabu (5/8/2026)

Stella mengajak para mahasiswa mencermati fenomena AI lewat kacamata keberlanjutan. Ia menyamakan tren perkembangan AI dengan situasi economic bubble pada masa perdagangan tulip di Belanda dahulu serta fenomena gelembung dot-com.

“Kini hampir semua persoalan dijawab AI dan dapat menjadi indikasi yang layak dikaji sebagai wujud gelembung teknologi yang dapat pecah sewaktu-waktu,” ujar profesor dari Tsinghua University, China tersebut.

Menurut pandangan Stella, analisis semacam itu sama sekali bukan dimaksudkan untuk merendahkan AI, melainkan memicu mahasiswa agar merenungkan dampak teknologi tersebut secara lebih komprehensif. Ia lantas menyoroti masifnya kebutuhan sumber daya guna menopang operasional pusat data AI.

“Pusat data AI memerlukan listrik dan air dalam jumlah sangat besar untuk menjalankan proses komputasi yang juga diperkirakan terus meningkat,” katanya.

Ia menimpali bahwa besarnya kebutuhan energi serta pasokan air pada pusat data AI setara dengan tingkat konsumsi di negara-negara besar, sehingga aspek ini wajib dijadikan pertimbangan matang sebelum teknologi AI diadopsi secara luas.

“Untuk itu, saya mengingatkan bahwa kami harus mempertimbangkan apakah manfaat AI sepadan dengan sumber daya yang dikorbankan,” tuturnya.

Di samping itu, Stella berpendapat bahwa institusi perguruan tinggi wajib berlandaskan pada tiga pilar utama yakni penciptaan pengetahuan, penyebaran pengetahuan, serta kurasi pengetahuan demi memastikan para lulusannya tetap memiliki daya saing relevan di tengah era AI.

“Kurasi pengetahuan inilah yang membedakan antara manusia dengan AI, dan akademisi bertugas menyaring esensi kebenaran yang paling bernilai bagi peradaban,” ujar Stella.

Terkini