Potensi Lonjakan Inflasi Akhir 2026 Akibat Cuaca dan MBG

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:17:01 WIB
Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman. (Foto: NET)

JAKARTA - Laju inflasi di Indonesia sampai pengujung tahun 2026 diprediksi masih menghadapi berbagai rintangan. Walau tingkat inflasi pada Juli 2026 mengalami perlambatan, tekanan harga dipandang berpotensi naik lagi akibat ancaman cuaca ekstrem, kebijakan pemerintah yang menggenjot permintaan pangan, serta ketidakstabilan geopolitik global.

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman, memperhitungkan bahwa inflasi bakal berada di kisaran 3,13% secara tahunan pada penghujung tahun 2026, dengan asumsi kabinet tetap menjaga harga energi subsidi pada posisi saat ini.

“Namun, jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat dan memicu lonjakan harga energi global dalam waktu yang lebih lama, inflasi berpotensi melampaui proyeksi tersebut,” ujar Faisal dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, lonjakan harga energi global sanggup memperkuat tekanan kepada pemerintah supaya menyesuaikan harga energi subsidi. Apabila skenario itu terjadi, tekanan inflasi bakal bertambah kuat sekaligus membuka celah bagi Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan.

Di samping ancaman harga energi, Faisal turut menyoroti sejumlah aspek domestik yang berdaya dorong inflasi pada sisa tahun ini. Ia menilai kebijakan pemerintah yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi berpotensi menaikkan jumlah uang beredar (M2), sehingga mampu memunculkan tekanan inflasi dari sisi permintaan.

Pada saat bersamaan, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diestimasikan bakal mendongkrak kebutuhan terhadap komoditas pangan. Menurut Faisal, lonjakan permintaan tersebut harus diimbangi melalui kenaikan produksi pertanian serta ketahanan rantai pasok agar tidak berujung pada lonjakan harga pangan.

"Program MBG kemungkinan akan memperkuat permintaan pangan sehingga berisiko mendorong inflasi harga bergejolak apabila tidak diiringi peningkatan produksi pertanian yang memadai," jelasnya.

Faisal juga memperingatkan bahwa potensi kemunculan fenomena El Nino berkekuatan tinggi atau yang dijuluki "Godzilla" wajib diwaspadai sebab sanggup merusak produksi pertanian. Gangguan itu berpotensi memicu kenaikan harga pangan serta memperbesar tekanan inflasi.

Dari ranah eksternal, ia melihat tingkat ketidakpastian masih tinggi seiring berlanjutnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). 

Situasi tersebut terbukti memicu sentimen penghindaran risiko (risk-off), menahan laju masuknya modal ke pasar domestik, serta membebani pergerakan nilai tukar rupiah.

Pelemahan rupiah dipandang sanggup mengerek inflasi impor, khususnya lewat kenaikan biaya bahan baku impor yang selanjutnya diteruskan oleh produsen kepada harga jual konsumen.

Kendati demikian, dalam skenario dasar, ia tetap memproyeksikan BI bakal mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75% sampai akhir tahun. Menurut Faisal, kenaikan BI Rate di masa lalu telah berupaya mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga The Fed pada kuartal IV-2026.

"Kami belum menutup kemungkinan adanya kenaikan suku bunga BI lagi pada 2026 apabila kondisi memburuk. Namun, skenario dasar kami tetap BI mempertahankan suku bunga di level 5,75%," pungkasnya.

Sebagai catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Indonesia pada Juli 2026 berada di angka 2,88% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) menyentuh 111,73, sementara secara bulanan (month-to-month/m-to-m) mencatatkan deflasi sebesar 0,14%.

Terkini

Harapan Pelatih Persib Jelang Indonesia Vs Vietnam

Senin, 03 Agustus 2026 | 03:23:02 WIB

Gagal Juara WBC, Roach Puji Penampilan William Zepeda

Senin, 03 Agustus 2026 | 03:18:31 WIB

Sean Gelael Cerita Dunia Balap kepada Pengunjung GIIAS

Senin, 03 Agustus 2026 | 03:12:01 WIB

BPS Sebut Harga Energi Global Naik, Emas Terkoreksi

Senin, 03 Agustus 2026 | 03:09:01 WIB