JAKARTA — Langkah Timnas voli putri Indonesia dalam turnamen bergengsi SEA V Cup 2026 segera berlanjut ke pertandingan leg pertama. Pertemuan antara Timnas Voli Putri Indonesia dan Vietnam ini dijadwalkan berlangsung di Dong Anh Gymnasium, Hanoi, pada Sabtu (1/8/2026).
Bagi kubu Indonesia, duel kontra Vietnam menjadi peluang krusial untuk memperbaiki catatan performa dalam ajang tersebut. Upaya ini dilakukan menyusul hasil yang kurang memuaskan saat melakoni laga pembuka sebelumnya.
Pada pertandingan perdana hari Jumat (31/7/2026), Timnas Voli Putri Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand setelah menelan kekalahan dengan skor 1-3 (21-25, 34-32, 21-25, 19-25).
Sekalipun mampu menyamakan kedudukan lewat duel yang berjalan sangat alot dan dramatis di set kedua, tim Merah Putih belum sanggup mempertahankan tren positif itu pada dua set penutup.
Dalam laga tersebut, Indonesia sejak menit awal telah mengerahkan komposisi pemain andalannya, yang meliputi Namira Marandanti, Chelsa Berliana, Medi Yoku, Ersandrina Devega, Tisya Amallya, serta Azzahra Dwi.
Namun, kubu Thailand yang digawangi oleh Ajcharaporn Kongyot langsung mengambil inisiatif permainan secara agresif. Lewat pola permainan bertempo cepat serta pertahanan yang solid, mereka mampu memadamkan perlawanan Indonesia.
Luciana Taroreh selaku manajer tim secara terbuka mengakui ketangguhan sang lawan yang tampil jauh lebih rapi di atas lapangan.
“Thailand menunjukkan kualitasnya dengan permainan yang solid, disiplin, dan minim kesalahan,” kata Luciana dalam siaran PBVSI dikutip dari BolaSport, Sabtu (1/8/2026).
Luciana menguraikan bahwa para srikandi Merah Putih sebenarnya sempat menebar ancaman ke lini pertahanan Thailand di beberapa fase pertandingan berkat akuratan servis serta variasi serangan yang diterapkan. Kendati demikian, masalah konsistensi masih menjadi kendala utama yang harus dihadapi.
“Beberapa kesalahan sendiri pada poin-poin krusial membuat momentum yang sudah dibangun tidak dapat dipertahankan dengan baik,” tegas Luciana Taroreh.
Meskipun hasil akhir belum memenuhi harapan, motivasi bertanding dan kerja keras seluruh pemain dipastikan tetap menyala hingga peluit panjang dibunyikan.
Bentrokan menghadapi tim kuat sekelas Thailand justru dipandang sebagai sarana pembelajaran yang bernilai tinggi.
“Pengalaman menghadapi Thailand menjadi bekal penting untuk proses pembentukan tim dan peningkatan performa ke depan,” tuturnya.
Menyongsong laga berikutnya melawan Vietnam, jajaran pelatih beserta para pemain kini mengalihkan seluruh konsentrasi pada penyusunan strategi dan pemulihan kebugaran agar dapat menampilkan performa terbaik.
“Fokus tim saat ini adalah memperbaiki aspek-aspek yang masih menjadi kelemahan serta menjaga kondisi fisik dan mental pemain agar mampu memberikan hasil yang lebih baik,” pungkasnya.