Benarkah Diet Rendah Karbohidrat Bisa Naikkan Kolesterol LDL?

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:07:01 WIB
Diet Rendah Karbohidrat Tak Selalu Aman untuk Kolesterol [FOTO: NET].

JAKARTA - Metode diet rendah karbohidrat sering kali dipilih sebagai cara praktis untuk merampingkan berat badan serta menjaga kesehatan tubuh. Kendati demikian, pola pengaturan makan ini ternyata tidak selalu menunjukkan dampak yang seragam bagi setiap individu.

Hasil riset mutakhir mengungkapkan bahwa sebagian orang justru berisiko mengalami lonjakan kadar kolesterol LDL atau yang populer disebut sebagai kolesterol "jahat", khususnya pada mereka yang memiliki kerentanan genetik terhadap tingginya kadar LDL.

Merujuk dari Prevention (29/7/2026), studi yang dipaparkan dalam agenda pertemuan tahunan American Society for Nutrition tersebut menelaah data dari lebih dari 600 orang dewasa yang mempraktikkan pola makan rendah karbohidrat sehat ataupun rendah lemak sehat selama kurun waktu setahun penuh.

Para peneliti turut memperhitungkan variabel genetik, tingkat konsumsi lemak jenuh, serta besaran kadar kolesterol LDL para partisipan di awal riset maupun berselang enam bulan usai mereka menjalani pola diet tersebut.

Berdasarkan temuan yang didapat, para peserta yang membawa kecenderungan genetik lebih tinggi terhadap LDL tercatat mengalami eskalasi kolesterol dalam skala yang jauh lebih besar ketika menerapkan diet rendah karbohidrat.

"Sebaliknya, peserta dengan kecenderungan genetik yang lebih rendah rata-rata mengalami respons LDL yang tidak terlalu besar," kata Alexa Barad, Ph.D., R.D.N., salah satu penulis penelitian sekaligus peneliti pascadoktoral di Stanford University School of Medicine.

Mengapa diet rendah karbohidrat bisa pengaruhi kolesterol?

Menurut pandangan Juli MacKenna, R.D., manajer nutrisi klinis di MelroseWakefield Hospital, salah satu faktor pemicu yang paling rasional adalah jenis asupan makanan pengganti karbohidrat yang dipilih selama menjalani pola makan tersebut.

Penerapan diet rendah karbohidrat umumnya membuat sebagian porsi kalori dari karbohidrat dialihkan menjadi asupan lemak. Apabila individu yang bersangkutan lantas mengonsumsi lemak jenuh secara berlebihan, otomatis kadar kolesterol LDL di dalam tubuh akan terdongkrak naik.

MacKenna juga menerangkan bahwa orang-orang dengan persentase lemak tubuh yang lebih minim cenderung lebih rentan mendapati lonjakan drastis pada kadar LDL tatkala melakoni diet rendah karbohidrat.

Pembatasan asupan karbohidrat dapat mereduksi cadangan glikogen, yakni bentuk simpanan glukosa yang lazim dimanfaatkan tubuh untuk memproduksi energi. Situasi ini kemudian memicu pelepasan asam lemak bebas dari sel-sel lemak yang diyakini MacKenna turut mendongkrak naiknya kadar LDL.

Meskipun demikian, aspek faktor genetik tetap perlu mendapat perhatian khusus. Pakar diet Jessica Cording menuturkan bahwa seseorang berpotensi memiliki kadar LDL yang tinggi kendati sudah berupaya disiplin merawat pola makan serta rajin berolahraga.

"Saya memiliki klien yang mengatakan, 'Saya tidak mengerti. Saya tidak makan daging merah, telur, atau produk susu tinggi lemak. Saya berolahraga. Apa yang terjadi?'" ujar Cording.

Menurut keterangannya, apabila angka kolesterol LDL tetap tinggi meski pelbagai anjuran gaya hidup sehat telah diterapkan secara maksimal, faktor genetik bisa menjadi salah satu petunjuk utama di baliknya.

Bukan berarti diet rendah karbohidrat harus dihindari

Kendati demikian, temuan ilmiah ini sama sekali tidak mengindikasikan bahwa setiap orang yang menjalankan diet rendah karbohidrat pasti akan mengalami kenaikan kolesterol.

Spesialis jantung intervensi Joseph Daibes, D.O., menyampaikan bahwa individu dengan bakat kolesterol tinggi akibat faktor keturunan tetap aman-aman saja jika ingin mempraktikkan pola makan rendah karbohidrat.

"Menjalani diet rendah karbohidrat itu sendiri bukanlah penyebab kolesterol Anda meningkat," kata Daibes.

Cording menganjurkan agar masyarakat tetap cermat menjaga kecukupan asupan serat, khususnya jenis serat larut, yang terbukti membantu mengikat lemak berlebih supaya bisa dikeluarkan dari tubuh.

Beberapa sumber pangan berserat tinggi dengan kadar karbohidrat yang relatif rendah mencakup buah alpukat, biji chia, hingga aneka buah beri.

Ia turut menyarankan pembatasan konsumsi daging tinggi lemak seperti daging sapi, domba, babi, serta berbagai produk olahan daging. Di sisi lain, produk susu tinggi lemak masih diperbolehkan untuk dikonsumsi dalam takaran yang moderat sebagai elemen pelengkap pola makan sehat secara keseluruhan.

Penting memantau kolesterol setelah mengubah pola makan

Para ahli menegaskan krusialnya pelaksanaan pemeriksaan mandiri kadar kolesterol sesudah seseorang melakukan transformasi besar-besaran pada menu makan harian mereka.

Barad mengemukakan bahwa temuan studi ini mempertegas urgensi pengawasan ketat terhadap kadar LDL pascaperubahan pola makan, khususnya saat seseorang baru memulai rutinitas diet rendah karbohidrat.

"Pada saat yang sama, hasil penelitian kami memperkuat anjuran pola makan saat ini untuk membatasi asupan lemak jenuh," ujar Barad.

Apabila kedapatan angka LDL mengalami peningkatan, biasanya para dokter akan merekomendasikan modifikasi gaya hidup dan pola makan sebagai langkah penanganan awal.

Selang beberapa bulan kemudian, kadar kolesterol dapat dicek kembali guna mengevaluasi progres perkembangannya. Bila posisi kolesterol terpantau masih tinggi, tenaga medis baru akan mempertimbangkan opsi pengobatan lanjutan.

Kendati demikian, penyesuaian pola makan dan gaya hidup sehat tetap memegang peranan vital dalam hal pengelolaan kolesterol jangka panjang, termasuk bagi mereka yang sudah telanjur mengonsumsi obat-obatan medis.

Terkini

Concacaf Tolak Proposal Baru FIFA Terkait FFE

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:22:02 WIB

Caroline Dubois Gabung Tim Manny Robles Untuk Babak Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:17:31 WIB

PSS Sleman Siap Hadapi Jadwal Padat Musim 2026/2027

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:16:01 WIB