Harga Minyak Dunia Turun, ESDM Hitung Keekonomian Pertamax

Rabu, 29 Juli 2026 | 20:52:32 WIB
ESDM Hitung Keekonomian Pertamax di Tengah Gejolak Minyak [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini sedang melakukan penghitungan keekonomian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis pertamax di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang terdampak oleh dinamika geopolitik.

“Jadi nanti akan dihitung BPP (biaya pokok penyediaan)-nya Pertamina ditambah keuntungan. Nanti kami dari Kementerian ESDM akan mencoba melihat kira-kira harga yang ini keekonomiannya bagaimana,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut, Yuliot menekankan bahwa besaran harga pertamax sangat bergantung pada pergerakan harga minyak dunia. Di pasaran saat ini, tingkat ketidakpastian harga terpantau cukup tinggi akibat situasi geopolitik yang sedang berlangsung.

Maka dari itu, Kementerian ESDM akan mengevaluasi rata-rata harga minyak global. Jika tren menunjukkan adanya penurunan dibandingkan periode sebelumnya, Yuliot membuka peluang bagi Pertamina untuk melakukan penyesuaian harga pertamax ke bawah.

“Kalau potensi nanti ini harga minyak secara rata-rata turun, ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga,” kata Yuliot.

Di sisi lain, berdasarkan laporan Sputnik, harga minyak dunia dilaporkan mengalami penurunan lebih dari 2 persen pada perdagangan hari Selasa (28/7). Harga minyak mentah acuan Brent tercatat merosot di bawah 84 dolar Amerika Serikat (AS) per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan bulan Juli.

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 13.55 Waktu Indonesia Barat (WIB), harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Oktober terkoreksi 2,34 persen dari penutupan sebelumnya, menjadi 83,86 dolar AS (Rp1,51 juta dengan kurs 1 dolar AS setara Rp18.070 pada Selasa pagi) per barel.

Pencapaian ini menandai kali pertama harga acuan minyak dunia tersebut berada di bawah level 84 dolar AS sejak tanggal 17 Juli yang lalu.

Sementara itu, komoditas minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September turut mengalami pelemahan sebesar 2,28 persen, sehingga berada di posisi 80,73 dolar AS (Rp1,46 juta) per barel.

Sebelumnya, harga minyak Brent untuk pengiriman September sempat mengalami lonjakan signifikan sebesar 6,38 persen ke level 100,07 dolar AS (Rp1,81 juta) per barel dalam sesi perdagangan tanggal 23 Juli lalu.

Di samping itu, harga minyak WTI untuk pengiriman September sebelumnya juga tercatat naik sebesar 5,36 persen hingga mencapai 91,48 dolar AS (Rp1,65 juta) per barel.

Terkini