Alasan BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca Berdasarkan Kajian Ilmiah

Rabu, 29 Juli 2026 | 19:43:02 WIB
BMKG Jelaskan Alasan Modifikasi Cuaca Tak Bisa Sembarangan [FOTO: NET].

JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menekankan bahwa pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) demi mengisi waduk dijalankan berlandaskan riset ilmiah dengan memperhatikan kondisi masing-masing kawasan. 

Menurut penuturannya, wilayah Indonesia mempunyai 699 zona musim yang setiap bagiannya memiliki profil curah hujan tersendiri sehingga penerapannya tidak bisa disamaratakan.

Pernyataan tersebut disampaikan Faisal seusai mengikuti rapat terbatas mengenai penanganan cuaca ekstrem serta penanggulangan bencana yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (28/7/2026). 

Faisal menerangkan bahwa pihak BMKG telah menjalankan operasi modifikasi cuaca pada beberapa kawasan strategis demi mempertahankan ketersediaan air, dengan salah satu titik lokasinya berada di area Danau Toba.

"Sejak bulan Mei hingga Juni kami bekerja sama dengan Perum Jasa Tirta I juga mengisi Danau Toba," ujarnya.

Berdasarkan keterangannya, tindakan tersebut ditempuh sebab permukaan air Danau Toba mengalami penurunan hingga sekitar satu sentimeter setiap harinya. Padahal, wadah air alami tersebut memegang fungsi vital sebagai penyedia air bagi warga sekaligus penunjang operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

"Di sana kami lakukan Operasi Modifikasi Cuaca untuk menjaga permukaan air dalam kondisi normal sehingga masyarakat masih tetap bisa bertani, kemudian Pembangkit Listrik Tenaga Air juga dapat terjaga," katanya.

Faisal menambahkan, keuntungan ekonomi yang didapat dari kegiatan tersebut jauh lebih tinggi ketimbang biaya operasionalnya karena sanggup mengamankan suplai air bagi PLTA yang melayani kebutuhan berbagai zona industri di sekitar Danau Toba.

"Investasinya itu 10 kali lebih kecil daripada nilai yang dihasilkan dari air yang digunakan untuk PLTA," ujarnya.

Khusus untuk area Pulau Jawa, Faisal mengutarakan bahwa pihak BMKG terus membangun koordinasi bersama Menteri Pekerjaan Umum serta Balai Besar Wilayah Sungai guna menetapkan waduk-waduk yang menjadi prioritas pengisian via operasi modifikasi cuaca. 

Menurutnya, penentuan titik lokasi tidak dijalankan seragam lantaran tiap daerah menyimpan pola musim yang berlainan.

"Indonesia itu dibagi dalam 699 zona musim. Satu daerah itu tidak sama dengan daerah lain pola hujannya," katanya.

Faisal memaparkan bahwa terdapat kawasan yang hanya mempunyai satu musim sehingga nyaris tidak mengenal musim kemarau, contohnya wilayah barat Pegunungan Bukit Barisan, zona utara Kalimantan, serta sebagian besar tanah Papua. 

Sebaliknya, ada pula daerah yang memiliki corak musim berkebalikan, seperti Maluku yang justru mendapati musim penghujan ketika sebagian besar teritori Indonesia masuk ke periode kemarau. Oleh sebab itu, pihak BMKG menilai manajemen 240 waduk di Indonesia wajib diselaraskan dengan ketersediaan air di tiap-tiap wilayah.

"Tidak serta-merta tanpa didasari kajian ilmiah kami melakukan modifikasi cuaca, tapi semuanya berbasis ilmiah," ujarnya.

Di samping itu, Faisal memastikan material semai yang dimanfaatkan dalam operasi modifikasi cuaca merupakan zat alami sehingga tidak memicu efek samping kimiawi yang membahayakan alam sekitar.

"Bahan semai yang kami gunakan juga bahan alami, jadi tidak membahayakan secara kimiawi bagi lingkungan sekitar," katanya.

Terkini