APLN Pertahankan Target Marketing Sales Rp1,5 Triliun di 2026

Selasa, 28 Juli 2026 | 00:48:31 WIB
Suku Bunga Tinggi, APLN Tetap Pasang Target Penjualan Rp1,5 T [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) tetap menjaga target pra penjualan atau marketing sales di kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun sepanjang tahun 2026, di tengah berbagai tantangan akibat tingginya tingkat suku bunga acuan atau BI Rate. 

Manajemen perseroan memandang bahwa kebutuhan akan hunian, utamanya dari pembeli untuk keperluan tempat tinggal atau end user, masih memperlihatkan ketahanan yang kuat.

Corporate Secretary APLN, Justini Omas, mengemukakan bahwa performa keuangan perseroan hingga paruh pertama 2026 saat ini masih berada dalam tahap penyelesaian akhir. Kendati demikian, merujuk pada realisasi kinerja kuartal I/2026, APLN sukses mencatatkan angka penjualan serta pendapatan usaha hingga mencapai Rp2,9 triliun, yang menanjak drastis 232% jika disandingkan dengan periode serupa tahun sebelumnya yang senilai Rp874,5 miliar.

"Perseroan masih mempertahankan target marketing sales tahun 2026 di kisaran Rp1,4–1,5 triliun. Target tersebut disusun secara realistis dengan mempertimbangkan kondisi pasar sekaligus sejalan dengan pencapaian marketing sales tahun 2025 yang mencapai sekitar Rp1,4 triliun," ujarnya, Selasa (28/7/2026).

Dari segi karakteristik pelanggan, APLN membeberkan bahwa mayoritas konsumen produk residensial masih didominasi oleh kalangan end-user, sementara sisa proporsinya merupakan investor yang memborong properti sebagai instrumen penanaman modal. 

Justini turut mengamati bahwa tingkat permintaan paling dominan masih bersumber dari kategori rumah kelas menengah, khususnya lini produk milenial home dengan kisaran banderol harga sekitar Rp1 miliar.

Berdasarkan keterangan Justini, sejumlah portofolio seperti Podomoro Park Bandung, Parkland Podomoro Karawang, serta Podomoro Golf View senantiasa menjadi primadona di mata pembeli karena menyajikan perpaduan harga yang bersaing, aksesibilitas prima, serta kelengkapan fasilitas di dalam kawasan.

Di samping itu, tren transaksi pembelian yang memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari lembaga perbankan juga terus mengalami kenaikan. Terhitung hingga semester I/2026, kurang lebih 50% dari total penjualan perseroan bersumber dari pemanfaatan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) serta Kredit Pemilikan Apartemen (KPA).

"Angka ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang mencerminkan permintaan end-user yang tetap sehat, didukung tren suku bunga yang lebih kondusif dan cicilan yang semakin terjangkau," imbuhnya.

Walau demikian, pihak APLN tidak menampik bahwa kenaikan suku bunga BI Rate masih menjadi variabel yang wajib diantisipasi mengingat potensinya dalam mengerek beban biaya pembiayaan sekaligus mengganggu daya beli publik. 

Walaupun begitu, perseroan menilai dampak negatif terhadap angka penjualan sejauh ini masih terkendali. Tingkat permintaan hunian dipandang tetap terjaga dengan baik lantaran didorong oleh kebutuhan mendesak masyarakat guna memiliki tempat tinggal sendiri.

Guna mempertahankan momentum perolehan penjualan sampai penghujung tahun, APLN secara konsisten memaksimalkan bermacam-macam strategi, mulai dari menyuguhkan program diskon dan promosi, memberikan opsi skema cicilan yang lebih longgar, hingga mempererat aliansi dengan dunia perbankan demi menghadirkan solusi pembiayaan yang kompetitif bagi para konsumen.

Memasuki masa mendatang, Justini menyampaikan bahwa perseroan akan terus mencermati dinamika pasar secara seksama serta menyesuaikan langkah-langkah strategis secara bijak agar target penjualan yang telah dicanangkan bisa terealisasi dengan baik.

Terkini