JAKARTA - Situasi keamanan di kawasan Jalan R.E. Martadinata, tepatnya di depan kantor PT Wijaya Karya (WIKA), Jakarta Utara, menjadi perhatian serius pihak kepolisian menyusul digelarnya aksi unjuk rasa oleh organisasi Pemuda Muslimin Indonesia. Kegiatan yang berlangsung di wilayah Kelurahan Pademangan Barat, Kecamatan Pademangan, itu mendapat pengawalan ketat dari aparat gabungan Polres Metro Jakarta Utara dan Polsek Pademangan.
Apel pengamanan yang berlangsung sebelum aksi dimulai dipimpin langsung oleh Kapolsek Pademangan, Kompol Immanuel Sinaga, S.H., S.I.K., M.H. Dalam pengarahan kepada anggotanya, ia menekankan pentingnya pelaksanaan tugas yang profesional, persuasif, dan mengedepankan pendekatan humanis, demi menjaga situasi tetap kondusif di tengah aspirasi warga yang disampaikan melalui demonstrasi.
“Laksanakan tugas sesuai dengan SOP. Pastikan tidak ada massa yang menutup akses jalan. Tempatkan massa di lokasi orasi yang telah disiapkan, dan bila orasi melebihi batas waktu, kita akan ambil langkah lebih lanjut,” tegas Kompol Immanuel dalam arahannya.
29 Personel Gabungan Dikerahkan
Dalam upaya menjamin kelancaran dan keamanan aksi yang digelar di seberang Stasiun Ancol itu, Polsek Pademangan mengerahkan total 29 personel gabungan. Rinciannya terdiri dari 2 anggota Satuan Intelkam, 5 anggota Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim), 5 dari Satuan Samapta, dan 17 personel dari Polsek Pademangan sendiri. Pengamanan ini disusun untuk menciptakan zona demonstrasi yang aman, baik bagi pengunjuk rasa maupun pengguna jalan yang melintas.
Langkah preventif ini merupakan bagian dari prosedur tetap kepolisian dalam mengawal kegiatan masyarakat yang menyampaikan pendapat di muka umum, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
Fokus Humanis dan Larangan Senjata Api
Kapolsek Pademangan secara tegas menginstruksikan jajarannya agar tidak membawa senjata api selama proses pengamanan berlangsung. Ia menyatakan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan non-kekerasan dan upaya pencegahan konflik.
“Tidak ada yang membawa senjata api. Kita hadir untuk mengamankan, bukan menakut-nakuti. Kalau ada hal-hal menonjol di lapangan, segera laporkan agar kita bisa ambil tindakan cepat dan tepat,” ujar Kompol Immanuel.
Instruksi ini sejalan dengan upaya kepolisian untuk meningkatkan kepercayaan publik dan mencegah ekskalasi konflik dalam setiap kegiatan penyampaian pendapat.
Massa Terkonsentrasi di Area PT WIKA dan Sekitar PT CMNP
Setelah apel pengamanan yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB, para personel langsung menempati titik-titik yang telah ditentukan. Massa dari Pemuda Muslimin Indonesia mulai memusatkan aksi mereka di depan kantor PT Wijaya Karya dan sebagian menyebar ke kawasan sekitar PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) di Tanjung Priok.
Meski aksi berlangsung cukup kondusif, aparat keamanan tetap siaga penuh guna mengantisipasi potensi gangguan ketertiban. Kompol Immanuel juga meminta seluruh personel tidak meninggalkan lokasi sampai massa benar-benar membubarkan diri secara tertib.
Aksi ini berlangsung hingga menjelang sore hari, dan apel pengamanan resmi dinyatakan selesai pada pukul 15.25 WIB dalam kondisi yang terkendali, aman, dan tanpa insiden yang berarti.
Alasan dan Tuntutan Aksi Masih Belum Diungkap
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemuda Muslimin Indonesia mengenai isi tuntutan mereka terhadap PT Wijaya Karya. Namun, diperkirakan demonstrasi ini berkaitan dengan isu sosial atau proyek pembangunan yang tengah digarap BUMN konstruksi tersebut di wilayah Jakarta atau sekitarnya.
Biasanya, kelompok ini kerap menyuarakan isu-isu keumatan dan keadilan sosial, serta mendorong transparansi dalam pembangunan nasional, termasuk pelibatan masyarakat dalam setiap tahap proyek strategis.
Jika aksi serupa terus berlanjut, dapat dipastikan aparat akan menyiapkan strategi pengamanan berlapis guna menjaga stabilitas keamanan di pusat-pusat ekonomi dan konstruksi nasional, seperti yang dilakukan di depan PT WIKA dan PT CMNP kali ini.
Kolaborasi Polisi dan Masyarakat Ditekankan
Kehadiran aparat bukan hanya untuk mengamankan objek vital nasional, tetapi juga memastikan hak-hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat tetap terlindungi. Untuk itu, Kapolsek Pademangan mengimbau masyarakat dan massa aksi untuk tetap menjaga ketertiban, mengikuti aturan, serta bekerja sama dengan aparat di lapangan.
“Kami di sini bukan untuk membatasi, tapi mengatur agar semua berjalan lancar. Aksi boleh, tapi jangan sampai mengganggu pengguna jalan dan masyarakat lainnya,” tutur Kompol Immanuel.
Kepolisian berharap, setiap kegiatan penyampaian pendapat di ruang publik tetap dilaksanakan dalam koridor hukum, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan menghindari provokasi yang dapat menciptakan kegaduhan.