Solusi Medis Atasi Gangguan Pertumbuhan Anak Lewat Deteksi Dini

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:28:31 WIB
Dokter Ungkap Gangguan Pertumbuhan Anak Bisa Diobati Sejak Dini [FOTO: NET].

JAKARTA - Mengetahui kenyataan bahwa buah hati tercinta mempunyai postur tubuh yang berada di bawah standar rata-rata tentu saja memancing kekhawatiran mendalam bagi para orang tua. Kendati demikian, hambatan pada pertumbuhan fisik tidak lantas harus dijadikan alasan untuk bersikap pesimistis ataupun menunda langkah penanganan secara medis. 

Dunia kedokteran pada era modern ini telah menyediakan beragam pilihan terapi hormon yang amat handal guna menyelamatkan potensi tinggi badan pasien.

Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.), Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi di Rumah Sakit Pondok Indah, menegaskan bahwa kecepatan orang tua dalam mencari diagnosis yang akurat merupakan penentu utama dari keberhasilan pemulihan.

Baca juga: Bahaya Tidur Larut dan Obesitas pada Pertumbuhan Tinggi Anak, Orangtua Harus Tahu

"Kapan saja dia terdiagnosis itu boleh kami terapi. Kalau dia terdiagnosis umur dua tahun, kami terapi. Kalau misalnya dia terdiagnosis karena gangguan pertumbuhan karena tulangnya sering patah-patah, umur satu bulan juga kami terapi," jelasnya dalam bincang virtual, Rabu (22/7/2026).

Metode pengobatan untuk mengatasi masalah pertumbuhan anak Mengenali tanda kelainan sejak lahir Langkah permulaan yang memegang peranan sangat krusial adalah tingkat kepekaan dalam mengamati ciri-ciri anatomi bawaan pada bayi baru lahir.

AI Bisa Menjadi Teman Curhat Remaja, tetapi Ada Risikonya Artikel Kompas.id

Berbagai macam gangguan endokrin yang merintangi proses tumbuh kembang terkadang tidak perlu menunggu usia anak beranjak besar untuk dapat terdeteksi, melainkan telah memperlihatkan jejak anomali genetika sesaat setelah proses persalinan tuntas.

"Tentu ada yang namanya low hairline, rambutnya lebih panjang. Terus wide space nipple kalau anak perempuan, jarak payudaranya lebih panjang, ada web neck, lahir lehernya seperti ada jaring," sebut dr. Aman.

Di samping batas tumbuhnya rambut serta bentuk struktur leher, penumpukan cairan yang tidak wajar pada area tubuh tertentu juga patut dicurigai. Sindrom kelainan kromosom semacam ini menuntut adanya evaluasi kilat dari tenaga medis profesional agar intervensi bisa segera digulirkan sedini mungkin.

"Atau ada lymphedema, di punggung kakinya itu bengkak kayak leher Mike Tyson, kakinya bengkak-bengkak. Jadi memang ada memang yang khas jadinya kami lihat," terang dr. Aman.

Baca juga: Belajar soal Pertumbuhan Tinggi Anak dari Yamal, Messi, dan Haaland

Jenis penanganan yang bervariasi Hingga saat ini, masih banyak pihak yang keliru menduga bahwa seluruh anak bertubuh pendek secara otomatis memerlukan suntikan hormon pertumbuhan. Kenyataannya, cetak biru pengobatan yang dirumuskan oleh dokter sangat ditentukan oleh temuan akar permasalahan yang mendasarinya.

"Jadi terapinya ini berbeda. Jadi tidak semua dikasih growth hormone. Ada yang dikasih hormon tiroid. Ada yang dikasih untuk mencegah tulangnya patah-patah supaya tidak bengkok juga," tutur dr. Aman.

Sebagai ilustrasi nyata, ketika seorang remaja mengalami perawakan tubuh yang tergolong mungil disertai keterlambatan proses kematangan seksual, obat penambah tinggi badan bukanlah solusi utama yang dicari. 

Dokter justru akan memusatkan perhatian pada pemberian farmakoterapi agar karakteristik masa pubertas pasien dapat terstimulasi dengan baik.

"Pada perempuan dikasih estradiol, pada laki-laki dikasih testosteron," kata dr. Aman.

Keamanan terapi hormon dan batas golden period Rasa cemas berlebihan terhadap potensi efek samping dari prosedur pengobatan jangka panjang tak jarang menjadi batu sandungan yang merintangi niat keluarga untuk menempuh jalur intervensi medis.

Padahal, selama rangkaian tindakan tersebut berada di bawah pengawasan ketat tenaga ahli yang kompeten, pemberian hormon dijamin aman sekaligus merepresentasikan bentuk pemenuhan hak mendasar bagi anak untuk tumbuh secara optimal.

"Tapi dengan syarat dilakukan oleh pakar yang memang paham untuk bidang itu. Kan tidak adil anak lain bertumbuh karena punya hormon, anak lain tidak punya hormon. Tidak adil dong dia tidak dapat hormon," papar dr. Aman.

Walaupun terbukti aman, peluang untuk mendongkrak postur tubuh ternyata memiliki batasan masa kedaluwarsa biologis di dalam tubuh yang lazim disebut sebagai golden period

Apabila pihak keluarga terlambat membawa sang anak untuk berkonsultasi, teknologi medis secanggih apa pun tidak akan sanggup lagi memunculkan tambahan sentimeter pada tinggi badan.

"Kalau anak perempuan kalau dia sudah haid, sudah lewat golden period-nya. Jadi golden period ini ditentukan oleh lempeng epifisis, penutupan tulangnya. Kalau penutupan tulangnya sudah lewat, kami lewat golden period-nya," ungkap dr. Aman.

Baca juga: Beda Pertumbuhan dan Perkembangan Anak, Orangtua Harus Tahu

Kritis memantau buku kurva Guna mengantisipasi agar keterlambatan penanganan tersebut tidak sampai terjadi, poros utamanya bertumpu pada kedisiplinan orang tua dalam mencatat grafik pertumbuhan fisik anak secara berkala. 

Data pemantauan yang tersusun secara rapi dan runut akan memudahkan dokter dalam merumuskan langkah taktis secara presisi, tanpa perlu meraba-raba kondisi kesehatan pasien lewat serangkaian tes uji laboratorium awal yang menelan biaya besar.

Dokter Aman secara tegas mengimbau para orang tua agar tidak bersikap pasif. Apabila kurva pertumbuhan pada buku kesehatan mulai memperlihatkan tren penurunan, pengajuan rujukan medis harus segera dilakukan tanpa harus menunggu postur tubuh anak terlihat terlalu pendek.

"Kami lihat kecepatan tumbuhnya. Kalau kurvanya makin turun, walaupun dia belum pendek, kalau dokternya mengatakan, 'Ini tidak apa-apa', minta dirujuk kalau saya bilang," pungkas dr. Aman.

Terkini