Pergerakan Rupiah Dipengaruhi Sikap Wait and See Jelang RDG BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 22:51:31 WIB
Rupiah Melemah Jelang RDG BI, Pasar Ambil Sikap Wait and See [FOTO: NET].

JAKARTA - Posisi nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu pagi terpantau mengalami pelemahan sebesar 42 poin atau setara 0,13 persen ke posisi Rp17.930 per dolar AS apabila dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.888 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengemukakan bahwa dinamika sentimen yang membayangi gerak rupiah sangat dipengaruhi oleh sikap penantian atau wait and see dari para pelaku pasar menyambut pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

“Kami memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.850–17.975 per dolar AS seiring pelaku pasar menantikan hasil keputusan kebijakan moneter tersebut,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Langkah otoritas moneter mengerek BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei 2026 lalu menandai penyesuaian perdana semenjak suku bunga acuan tertahan pada level 4,75 persen sejak September 2025. 

Kendati demikian, tekanan depresiasi terhadap rupiah terus berlanjut hingga sempat merangsek melewati ambang batas psikologis Rp18 ribu per dolar AS pada awal Juni.

Melalui forum RDG Mingguan BI yang dihelat pada 9 Juni 2026, bank sentral kembali memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps. Sejak dikeluarkannya kebijakan tersebut, posisi nilai tukar rupiah secara berangsur-angsur berhasil ditarik kembali bergerak di bawah kisaran level Rp18 ribu per dolar AS.

Berlanjut pada agenda RDG Bulanan tanggal 18 Juni 2026, Bank Indonesia kembali memperketat instrumen kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. Selanjutnya, pihak BI dijadwalkan kembali melangsungkan agenda RDG Bulanan pada rentang 21-22 Juli 2026.

“Kami memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen,” ungkap dia.

Faktor sentimen lain yang turut memberi pengaruh datang dari dinamika geopolitik global yang sempat memperlihatkan indikasi mereda setelah beberapa negara juru damai mengajukan usulan gencatan senjata. 

Sejumlah negara mediator menawarkan opsi gencatan senjata sementara, di mana pihak Amerika Serikat menyatakan keterbukaannya dalam mempertimbangkan tawaran tersebut, sehingga sempat memunculkan optimisme terhadap penurunan eskalasi konflik.

Namun demikian, perbaikan sentimen positif itu ternyata berumur pendek mengingat situasi ketegangan kembali meruncing menyusul adanya ancaman dari kelompok Houthi di Yaman yang berencana menerapkan blokade jalur maritim terhadap wilayah Arab Saudi.

“Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, sehingga mendorong harga minyak mentah Brent naik 2,01 persen menjadi 91,01 dolar AS per barel,” kata Josua.

Terkini