JAKARTA - Kelangkaan biosolar di Bengkulu mulai menghambat operasional bus Damri. Dalam dua bulan terakhir, jadwal keberangkatan menjadi tidak menentu dikarenakan armada harus mengantre hingga 24 jam di SPBU untuk mendapatkan bahan bakar.
Staf Usaha Damri Bengkulu, Farida Oksita, menyampaikan bahwa kondisi tersebut kian memburuk dalam dua pekan terakhir seiring semakin sulitnya memperoleh biosolar.
"Para sopir harus antre di SPBU untuk mendapatkan bio solar hingga 24 jam. Kondisi ini mempengaruhi jadwal keberangkatan penumpang," jelas Farida, Senin (20/7/2026).
Farida memaparkan, setiap bus yang baru tiba dari perjalanan diharuskan mengisi bahan bakar sebelum menjalani pemeriksaan atau servis ringan. Namun, panjangnya antrean di SPBU membuat jadwal keberangkatan berikutnya menjadi mundur.
"Bus itu kan kalau baru tiba, langsung isi bio solar, antre sekarang sampai 24 jam. Setelah itu bus wajib cek atau servis ringan makanya jadwal keberangkatan penumpang menjadi tidak bisa tepat waktu," sebutnya.
Menurut Farida, tidak sedikit armada yang telah mengantre berjam-jam tetapi tetap gagal mendapatkan biosolar karena stok habis. Apabila stok di SPBU kosong, Damri terpaksa membeli solar eceran demi menjaga agar armada tetap bisa beroperasi. Akan tetapi, harga solar eceran jauh lebih tinggi dari harga subsidi, sehingga membebani biaya operasional.
"Beli dieceran harga naik bisa sampai Rp 12 ribu per liter itu pun kalau di eceran tersedia. Kalau tidak bus tidak bisa berangkat. Akibat membeli solar di eceran menyebabkan biaya operasional makin membengkak," ujarnya.
Saat ini, Damri Bengkulu melayani lima trayek dengan tujuh armada, yakni Bengkulu-Bintuhan-Ulu Manna, Bengkulu-Lebong via Arga Makmur, Curup-Lebong, serta rute di Pulau Enggano. Sementara itu, antrean kendaraan di berbagai SPBU Bengkulu masih tampak mengular.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel merespons situasi ini dengan mengoptimalkan penyaluran biosolar, terutama di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menyatakan kepadatan di SPBU dipicu meningkatnya konsumsi biosolar di wilayah tersebut.
"Sebagai langkah antisipasi, kami melakukan penambahan penyaluran Biosolar di SPBU 21.391.11 menjadi 16 KL per hari agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih baik," ujar Rusminto.
Di samping menambah pasokan, Pertamina juga melakukan evaluasi distribusi sesuai Surat Edaran Gubernur Bengkulu serta memperketat pengawasan penyaluran biosolar subsidi menggunakan sistem QR Code Subsidi Tepat dan pemantauan nomor polisi kendaraan. Kendaraan yang terindikasi melakukan penyalahgunaan akan dimasukkan ke daftar hitam sehingga tidak dapat lagi membeli biosolar subsidi.