PLN Akui Pasokan Batu Bara Pembangkit Masih Menantang

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:02:31 WIB
PT PLN (Persero).

JAKARTA – PT PLN (Persero) mengakui bahwa pemenuhan stok batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) saat ini menghadapi tantangan yang cukup berat.

Meski begitu, perusahaan mengklaim pengiriman batu bara melalui tongkang tetap berjalan setiap harinya.

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, enggan membeberkan besaran Hari Operasi Pembangkit (HOP) yang tersedia, namun ia memastikan pasokan terus mengalir.

Hingga akhir tahun 2026, PLN masih membutuhkan tambahan 20 juta ton batu bara berkualitas sedang (medium range coal/MRC).

Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Kementerian ESDM telah membentuk tim pengadaan khusus yang melibatkan lintas instansi, termasuk Ditjen Minerba, Inspektorat Jenderal ESDM, BPKP, dan pihak PLN sendiri.

Langkah ini diambil sebagai respons atas arahan Presiden agar pengawasan energi primer lebih terjamin.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa dari kuota Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 154 juta ton yang dialokasikan untuk PLN, baru sekitar 134 juta ton yang telah terkontrak.

Guna menutupi sisa kekurangan 20 juta ton tersebut, pemerintah kini tengah mengkaji peluang revisi harga jual batu bara DMO.

Menurut Bahlil, penyesuaian harga perlu dilakukan mengingat biaya produksi batu bara, terutama untuk kalori menengah, telah meningkat drastis sementara batas harga US$70 per ton untuk sektor listrik tidak berubah selama delapan tahun terakhir.

"Jadi kita juga harus membijaksanai agar teman-teman pengusaha juga jangan dibeli dengan harga yang sangat murah," ujar Bahlil.

Sebagai catatan, data terakhir pada April 2026 menunjukkan stok batu bara PLN untuk PLTU berada di kisaran 15,9 HOP, sementara untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) berada di level 10,31 HOP.

Terkini