10 Kota Terbesar di Dunia Berdasarkan Populasinya, Ada Jakarta?

Minggu, 05 April 2026 | 19:45:51 WIB
kota terbesar di dunia

Jakarta - Kota terbesar di dunia saat ini menghadapi tekanan dari pertumbuhan populasi global yang telah menembus angka delapan miliar, dengan laju kenaikan sekitar 0,87 persen per tahun atau kira-kira 71 juta orang setiap tahunnya, menurut laporan BBC Science Focus.

India dan China secara tradisional dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. 

Data dari Worldometer menunjukkan bahwa India saat ini menampung sekitar 17,78% dari populasi global, sedangkan China hanya sedikit lebih rendah, yakni 17,20% pada November 2025.

Meskipun kedua negara tersebut memiliki populasi yang sangat besar, bukan berarti seluruh kota di dalamnya termasuk yang paling padat penduduknya. 

Beberapa kota justru berasal dari negara dengan populasi lebih kecil, namun jumlah warganya sangat banyak sehingga menempatkannya dalam kategori kota dengan kepadatan tinggi.

Pertanyaannya kemudian, kota-kota manakah yang benar-benar termasuk padat penduduk? Dan apakah kota-kota Indonesia, seperti Jakarta, berhasil masuk dalam daftar 10 kota terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduk?

Top 10 Kota Terbesar di Dunia Berdasarkan Jumlah Penduduknya

Berikut ini adalah ringkasan 10 kota terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduk pada tahun 2025. 

Sebagian besar kota mengalami peningkatan jumlah penduduk dibanding tahun sebelumnya, kecuali Tokyo dan Osaka yang justru menurun masing-masing sebesar 0,21% dan 0,24%.

1. Tokyo, Jepang
Tokyo menjadi kota dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, menampung sekitar 37,4 juta orang, jumlah yang hampir empat kali lipat dari populasi Kota New York, Amerika Serikat.

Kepadatan penduduk di Tokyo mencapai rata-rata 2.642 orang per kilometer persegi. Kondisi ini memunculkan berbagai tantangan, termasuk keterbatasan hunian yang layak dan terjangkau serta transportasi umum yang sering penuh dan cepat terisi.

2. Delhi, India (29,3 juta jiwa)
Delhi, yang memiliki sejarah lebih dari 2.000 tahun, kini dihuni lebih dari 29,3 juta orang. 

Populasi yang tinggi di kota ini juga menimbulkan sejumlah masalah, seperti kebutuhan akan pembaruan infrastruktur untuk memperlancar lalu lintas dan memenuhi kebutuhan hunian. 

Setengah dari penduduk Delhi tercatat tidak tinggal di tempat yang memenuhi standar hunian yang layak, menunjukkan minimnya fasilitas perumahan yang memadai.

3. Shanghai, China (26,3 juta jiwa)
Shanghai dulunya hanyalah sebuah desa nelayan kecil, namun kini telah berkembang menjadi salah satu kota besar dan modern di China dengan populasi mencapai 26,3 juta jiwa.

Distrik Nanjing Road menjadi wilayah paling terkenal di kota ini. Kawasan perbelanjaan ini dikenal sebagai pusat komersial yang sibuk, selalu dikunjungi lebih dari satu juta orang setiap hari untuk berbelanja.

4. Sao Paulo, Brasil (21,8 juta jiwa)
Sao Paulo menampilkan kontras sosial yang sangat mencolok, terlihat dari perbedaan mencolok antara permukiman padat yang dikenal sebagai favela dan gedung pencakar langit modern di pusat kota. 

Dengan populasi lebih dari 21 juta jiwa, kota ini menghadapi tantangan serius terkait penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, serta tata ruang kota yang kadang tidak teratur. 

Transportasi publik juga sering mengalami kepadatan, memicu kebutuhan akan pengembangan sistem transportasi massal yang lebih efisien. 

Di sisi positif, beberapa upaya pemerintah setempat berhasil menurunkan tingkat kriminalitas, sementara kualitas udara juga menunjukkan perbaikan berkat pengawasan polusi dan regulasi kendaraan. 

Selain itu, kota ini menjadi pusat ekonomi dan industri Brasil, sehingga banyak orang dari wilayah lain datang untuk bekerja, menambah keragaman budaya dan aktivitas ekonomi di kota ini.

5. Kota Meksiko, Meksiko (21,6 juta jiwa)
Terletak pada ketinggian 2.240 meter di atas permukaan laut, Kota Meksiko kini menampung lebih dari 21 juta penduduk. 

Pada awal abad ke-20, populasi kota ini hanya sekitar 500.000 jiwa, namun seiring berkembangnya kota menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan, gelombang migrasi dari pedesaan meningkat secara signifikan. 

Fenomena urbanisasi ini memunculkan pemukiman kumuh yang tersebar di berbagai bagian kota, karena ketersediaan perumahan formal tidak mampu memenuhi permintaan yang melonjak. 

Infrastruktur kota, termasuk jalan raya dan transportasi publik, juga mengalami tekanan besar akibat populasi padat. 

Di sisi lain, Kota Meksiko menjadi pusat budaya, pendidikan, dan industri kreatif Meksiko, menarik orang-orang untuk menetap dan berpartisipasi dalam kehidupan kota yang dinamis. 

Pemerintah kota terus berupaya mengatasi masalah kepadatan penduduk dengan program renovasi permukiman, pengembangan transportasi, dan penyediaan fasilitas publik.

6. Kairo, Mesir (20,4 juta jiwa)
Kairo bukan hanya terkenal karena arsitektur bersejarahnya yang menakjubkan, tetapi juga sebagai pusat budaya, politik, dan ekonomi Mesir. 

Kota ini menjadi rumah bagi sekitar 11 persen dari total populasi negara, menjadikannya kota tersibuk di Mesir. 

Meski sering menghadapi badai debu dan suhu panas ekstrem, Kairo tetap menjadi pusat pendidikan, bisnis, dan kegiatan pemerintahan. 

Kepadatan penduduk menyebabkan tekanan besar pada transportasi, perumahan, dan sistem utilitas kota, termasuk air bersih dan sanitasi. 

Peningkatan kendaraan pribadi menimbulkan kemacetan yang parah serta polusi udara yang tinggi. 

Namun, pemerintah lokal dan berbagai organisasi berupaya meningkatkan kualitas hidup warga melalui proyek infrastruktur, perbaikan sistem transportasi publik, dan revitalisasi area permukiman. 

Kota ini juga memiliki peran penting dalam pariwisata, karena kehadiran piramida Giza dan situs kuno lainnya menarik wisatawan dari seluruh dunia, menambah aktivitas ekonomi dan sosial kota.

7. Dhaka, Bangladesh (20,2 juta jiwa)
Dhaka merupakan kota bersejarah yang menjadi pusat budaya Bengali, di mana berbagai festival seni dan acara keagamaan rutin digelar sepanjang tahun. 

Selain itu, kota ini juga menjadi pusat pemerintahan Bangladesh sekaligus jantung ekonomi karena adanya industri percetakan yang signifikan. 

Kondisi ini membuat Dhaka menjadi tujuan utama bagi warga Bangladesh yang ingin mencari peluang ekonomi dan kehidupan yang lebih baik.

8. Mumbai, India (20,2 juta jiwa)
Mumbai dikenal sebagai pusat industri film India atau Bollywood, yang menghasilkan film dan pertunjukan musik terkenal di seluruh dunia. 

Kota ini juga menjadi pusat kegiatan komersial, dengan banyak gedung bertingkat yang menampung perusahaan-perusahaan besar di India. 

Popularitas kota ini menarik banyak orang dari berbagai wilayah India untuk pindah dan mencari peluang hidup baru. 

Meskipun menjadi kota metropolitan, Mumbai masih menghadapi tantangan terkait sanitasi, perumahan yang layak, dan infrastruktur, yang disebabkan oleh tingginya jumlah penduduk serta kesulitan memenuhi kebutuhan dasar warganya.

9. Beijing, China (19,4 juta jiwa)
Beijing termasuk salah satu kota tertua di dunia dan telah mengalami pertumbuhan populasi yang signifikan selama 50 tahun terakhir. 

Pertumbuhan ini tidak mengherankan karena Beijing juga merupakan pusat bisnis utama di China. 

Namun, tingginya jumlah penduduk menimbulkan berbagai tantangan, termasuk meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi. 

Akibatnya, kemacetan lalu lintas menjadi masalah serius dan kualitas udara juga mengalami penurunan akibat polusi yang meningkat.

10. Osaka, Jepang (19,2 juta jiwa)
Wilayah Metropolitan Keihanshin, yang mencakup Kota Osaka, kini menjadi rumah bagi sekitar 19,2 juta jiwa. 

Hal ini wajar karena Osaka berperan sebagai pusat perdagangan dan industri penting bagi banyak perusahaan besar di Jepang. 

Seperti kota metropolitan besar lainnya, Osaka menghadapi masalah kemacetan dan keterbatasan perumahan yang layak, yang biasanya hanya dapat diatasi bagi mereka dengan kemampuan finansial lebih tinggi.

Sebagai penutup, menjelajahi kota terbesar di dunia menunjukkan betapa kompleksnya tantangan urban sekaligus kekayaan budaya dan peluang ekonomi yang ditawarkan.

Terkini