JAKARTA - Upaya pemulihan pascabanjir di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, terus dilakukan secara bertahap, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak bencana. Salah satu kebutuhan penting yang mulai dipulihkan adalah ketersediaan listrik di hunian sementara yang dibangun bagi para penyintas banjir.
PT PLN (Persero) melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Jeuram mulai melakukan penormalan arus listrik ke sejumlah titik hunian sementara atau huntara di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang. Penyambungan listrik ini dilakukan seiring dengan proses pembangunan unit hunian yang sedang berlangsung bagi warga yang sebelumnya terdampak banjir.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memastikan warga yang mulai menempati hunian sementara dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih layak, terutama pada malam hari ketika kebutuhan penerangan menjadi sangat penting.
“Proses penyambungan ini dilakukan secara bertahap, seiring selesainya pembangunan fisik bangunan tersebut,” kata Manajer PLN ULP Jeuram Syamsul Rizal.
Penyambungan Listrik Dilakukan Bertahap
Menurut Syamsul Rizal, proses penyaluran listrik ke huntara tidak dilakukan sekaligus, melainkan secara bertahap mengikuti perkembangan pembangunan fisik hunian tersebut. PLN akan langsung mengalirkan listrik ke unit-unit hunian yang telah selesai dibangun dan dinyatakan siap untuk ditempati.
Meskipun pembangunan seluruh unit hunian sementara belum rampung sepenuhnya, pihak PLN tetap berupaya mempercepat penyediaan listrik untuk bangunan yang sudah siap huni agar warga dapat segera menikmati fasilitas penerangan yang memadai.
"Posisi yang sudah selesai langsung kami nyalakan terus secara bertahap," ucapnya.
Dengan pola kerja tersebut, diharapkan proses penyaluran listrik dapat berjalan lebih cepat tanpa harus menunggu seluruh pembangunan huntara selesai. Hal ini juga membantu para penyintas banjir yang sudah mulai menempati hunian sementara agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih nyaman.
Selain itu, ketersediaan listrik juga menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung berbagai aktivitas warga, mulai dari kebutuhan penerangan, penggunaan peralatan rumah tangga sederhana, hingga mendukung aktivitas anak-anak yang membutuhkan penerangan untuk belajar pada malam hari.
Dua Jenis Hunian Sementara yang Dialiri Listrik
Dalam proses penyaluran listrik tersebut, PLN melayani dua kategori hunian sementara yang dibangun di wilayah Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang. Kedua jenis hunian ini berasal dari sumber pembangunan yang berbeda, namun sama-sama ditujukan untuk menampung warga terdampak banjir.
Jenis pertama adalah huntara mandiri, yaitu bangunan yang didirikan secara swadaya oleh masyarakat setempat. Hunian ini biasanya dibangun dengan dukungan gotong royong warga untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal sementara sambil menunggu proses pemulihan pascabencana.
Jenis kedua adalah huntara BNPB, yaitu bangunan yang difasilitasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Hunian ini termasuk unit bangunan komunal yang dirancang dengan konsep satu bangunan memiliki lima pintu sehingga dapat menampung beberapa keluarga sekaligus.
Syamsul menjelaskan bahwa PLN terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan proses penyambungan listrik dapat berjalan lancar. Koordinasi tersebut mencakup pengumpulan data mengenai lokasi desa serta jumlah unit hunian yang telah siap untuk dialiri listrik.
Selain fokus pada huntara yang sudah dibangun, PLN juga memperhatikan kebutuhan listrik bagi warga yang hingga saat ini masih tinggal di lokasi pengungsian sementara.
"Untuk yang di pengungsian (tenda), saat ini juga sedang dalam proses pembangunan jaringan," tambahnya.
Upaya Memenuhi Kebutuhan Listrik Pengungsi
Penyediaan jaringan listrik tidak hanya difokuskan pada huntara yang sudah berdiri, tetapi juga diarahkan ke lokasi-lokasi pengungsian yang masih menggunakan tenda. Di sejumlah titik pengungsian tersebut, warga masih membutuhkan akses listrik untuk penerangan dan berbagai kebutuhan dasar lainnya.
PLN berupaya mempercepat pembangunan jaringan listrik agar warga yang masih tinggal di tenda pengungsian juga dapat memperoleh fasilitas penerangan yang memadai. Kehadiran listrik menjadi kebutuhan penting terutama pada malam hari, ketika aktivitas warga masih berlangsung di sekitar lokasi pengungsian.
Pihak PLN menyatakan komitmennya untuk terus berupaya memastikan seluruh warga terdampak banjir di kawasan tersebut dapat segera mendapatkan akses listrik yang layak.
Upaya penormalan arus listrik ini dilakukan secara bertahap mengikuti proses pembangunan unit-unit hunian sementara yang masih terus berlangsung hingga saat ini.
Ratusan Kepala Keluarga Masih Mengungsi
Sementara itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Nagan Raya, masih terdapat ratusan keluarga yang hingga kini tinggal di tenda pengungsian. Warga tersebut masih menunggu selesainya pembangunan hunian sementara yang sedang dikerjakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui sejumlah pihak pelaksana.
Data BPBD menunjukkan bahwa sebanyak 379 Kepala Keluarga di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang masih menghuni tenda pengungsian. Kondisi tersebut terjadi karena pembangunan huntara belum sepenuhnya selesai.
Sebagian pengungsi masih mengandalkan penerangan seadanya pada malam hari. Hal ini terjadi karena proses pemulihan jaringan listrik dan pembangunan jaringan baru masih terus dilakukan oleh pemerintah bersama PLN.
Meski demikian, berbagai pihak terus berupaya memastikan kebutuhan dasar para penyintas bencana tetap terpenuhi. Pemerintah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana serta Pemerintah Kabupaten Nagan Raya masih secara rutin memasok berbagai kebutuhan logistik bagi warga yang berada di lokasi pengungsian.
Bantuan tersebut mencakup berbagai kebutuhan penting bagi para penyintas banjir, sehingga mereka dapat bertahan selama masa pemulihan hingga hunian sementara benar-benar siap ditempati secara penuh.