Jejak Sejarah Nasi Uduk Betawi Dalam Tradisi dan Budaya Jakarta

Senin, 09 Februari 2026 | 11:08:03 WIB
Jejak Sejarah Nasi Uduk Betawi Dalam Tradisi dan Budaya Jakarta

JAKARTA - Di tengah padatnya aktivitas Jakarta, nasi uduk hadir sebagai hidangan yang akrab di berbagai suasana. 

Dari warung kaki lima hingga meja makan keluarga, aroma nasi gurih dengan santan dan rempah selalu menggoda. Namun di balik kesederhanaannya, nasi uduk menyimpan kisah panjang yang berakar dari sejarah, budaya, dan tradisi masyarakat Betawi.

Nasi uduk bukan sekadar makanan pengganjal lapar. Ia lahir dari proses pertemuan budaya yang berlangsung berabad-abad lalu, ketika Batavia menjadi pusat perdagangan penting di Nusantara. 

Jejak sejarahnya memperlihatkan bagaimana pengaruh kuliner Melayu dan Jawa berpadu, lalu berkembang menjadi identitas khas Betawi yang masih bertahan hingga kini.

Dalam catatan sejarah kuliner Betawi, nasi uduk mulai dikenal sejak masa kolonial. Saat itu, Batavia menjadi tempat bertemunya beragam etnis dan tradisi, termasuk para pedagang dari tanah Melayu yang membawa kebiasaan memasak nasi dengan santan. Tradisi ini memiliki kemiripan dengan nasi lemak yang dikenal luas di wilayah Melayu.

Di sisi lain, masyarakat Jawa juga telah lama mengenal nasi gurih yang dimasak dengan santan. Pertemuan dua tradisi kuliner inilah yang kemudian melahirkan nasi uduk Betawi. Seiring waktu, sajian ini berkembang tidak hanya sebagai makanan sehari-hari, tetapi juga memiliki peran penting dalam ritual dan upacara adat masyarakat Betawi.

Jejak Kuliner dari Persimpangan Budaya Batavia

Batavia pada masa lalu dikenal sebagai kota pelabuhan yang ramai. Para pedagang dari berbagai wilayah datang dan membawa pengaruh budaya masing-masing, termasuk dalam hal kuliner. Dalam konteks inilah nasi uduk mulai mendapatkan bentuknya yang khas.

Penggunaan santan sebagai bahan utama menunjukkan pengaruh kuat tradisi Melayu, sementara rempah-rempah yang digunakan mencerminkan kebiasaan lokal masyarakat Jawa. Proses akulturasi ini berlangsung secara alami, mengikuti dinamika kehidupan masyarakat Batavia yang majemuk.

Hasilnya adalah nasi uduk dengan cita rasa gurih dan aroma harum. Beras dimasak bersama santan, daun salam, serai, dan daun pandan, menghasilkan nasi yang lembut dan kaya rasa. Ciri inilah yang membedakan nasi uduk Betawi dari olahan nasi lainnya di Nusantara.

Nasi Uduk dalam Tradisi dan Upacara Betawi

Selain sebagai makanan, nasi uduk juga memiliki kedudukan penting dalam tradisi masyarakat Betawi. Sejarawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menjelaskan bahwa nasi uduk telah lama hadir dalam berbagai ritus atau upacara adat.

“Yang jelas makanan ini juga menjadi salah satu makanan ritus (upacara). Misalnya ritus bikin perahu baru di pesisir dan ritus melepas perahu baru,” ujarnya dalam wawancara bersama detikFood.

Keberadaan nasi uduk dalam upacara tersebut menunjukkan bahwa makanan ini memiliki makna lebih dari sekadar santapan. Ia menjadi simbol doa, harapan, dan rasa syukur yang dipanjatkan oleh masyarakat Betawi dalam berbagai momen penting kehidupan.

Makna Simbolik Sebelum Masuknya Islam

Yahya menambahkan bahwa nasi uduk sudah dikenal dalam konteks upacara jauh sebelum masuknya Islam ke Nusantara, sekitar abad ke-12 hingga ke-13. Pada masa itu, nasi uduk hadir dalam tradisi lama yang disebut baritan.

“Nasi uduk merupakan kuliner atau masakan yang selalu ada pada upacara-upacara. Salah satu upacara sebelum Islam masuk itu disebut baritan,” tambahnya.

Dalam tradisi tersebut, nasi uduk tidak hanya dimakan, tetapi juga memiliki makna simbolik. Istilah “uduk” sendiri berkaitan dengan kedudukan atau status, yang melambangkan penghormatan dalam acara ritual tertentu. Pada upacara pelepasan perahu baru, misalnya, nasi uduk menjadi bagian dari persembahan sebagai bentuk rasa syukur dan harapan akan keselamatan serta berkah.

Dari Sajian Ritual ke Hidangan Sehari-hari

Seiring perjalanan waktu, nasi uduk perlahan keluar dari ruang ritual dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi. Perubahan ini berlangsung sejalan dengan perkembangan sosial dan budaya di Jakarta.

Kini, nasi uduk mudah ditemukan di hampir setiap sudut kota. Mulai dari warung sederhana di pinggir jalan hingga rumah makan yang lebih besar, nasi uduk menjadi pilihan menu untuk sarapan, makan siang, hingga santap malam.

Penyajiannya pun semakin beragam. Nasi uduk biasanya dinikmati bersama telur dadar, sambal kentang, orek tempe, ayam goreng, atau semur jengkol. Kombinasi lauk tersebut memperkaya cita rasa sekaligus memperkuat identitas nasi uduk sebagai hidangan khas Betawi.

Keberadaan nasi uduk yang terus bertahan hingga kini mencerminkan sejarah panjang Jakarta sebagai kota dengan akulturasi budaya yang kuat. Dari sajian ritual hingga menjadi hidangan populer lintas generasi, nasi uduk tetap menjadi simbol kekayaan kuliner Betawi yang tidak lekang oleh waktu.

Terkini