Transisi Hijau Industri Otomotif: Manuver Produsen Lokal Masuki Ekosistem Baterai Lithium

Senin, 09 Februari 2026 | 10:32:20 WIB
Transisi Hijau Industri Otomotif: Manuver Produsen Lokal Masuki Ekosistem Baterai Lithium

JAKARTA - Arus elektrifikasi global kini bukan lagi sekadar wacana di atas kertas, melainkan realitas yang mulai mengubah peta jalan industri manufaktur di tanah air. Menghadapi pergeseran tren konsumsi dari mesin pembakaran internal menuju kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV), sejumlah produsen komponen otomotif mulai memperluas bisnis ke sektor kendaraan listrik, seiring meningkatnya adopsi EV sebagai sarana transportasi. Perkembangan ini mendorong pelaku industri untuk menyesuaikan portofolio produk dengan arah pasar yang kian mengarah ke elektrifikasi.

Salah satu pemain kunci yang mulai menunjukkan taringnya adalah PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA). Dalam ajang bergengsi Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, perusahaan ini memperkenalkan baterai lithium 12 volt sebagai bukti kesiapan mereka bersaing di pasar masa depan. Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bagian dari strategi perusahaan dalam merespons perubahan industri otomotif secara komprehensif.

Strategi Adaptif di Tengah Arus Elektrifikasi

Bagi manajemen DRMA, inovasi di sektor komponen pendukung EV adalah jawaban atas tuntutan pasar yang semakin sadar lingkungan. Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso mengatakan bahwa langkah ini diambil untuk memastikan perusahaan tetap relevan dalam ekosistem yang baru. “Industri otomotif sedang bergerak ke arah elektrifikasi. Kami mencoba menyesuaikan diri dengan kebutuhan tersebut,” ujar Irianto di Jakarta, Sabtu.

Produk yang diperkenalkan, yakni baterai lithium 12V, secara spesifik dirancang untuk sepeda motor listrik. Hadir dalam dua varian—12V 6Ah dan 12V 3,5Ah—produk ini menawarkan keunggulan fisik yang signifikan. Dengan bobot yang lebih ringan serta ukuran yang lebih ringkas dibandingkan aki konvensional (timbal-asam), baterai ini menjanjikan efisiensi ruang dan performa yang lebih baik bagi pengguna kendaraan roda dua listrik.

Teknologi Penyimpanan Energi dan Komitmen Lingkungan

Pengembangan produk ini dimotori oleh unit bisnis khusus bernama Dharma Connect, yang mendedikasikan fokusnya pada teknologi kendaraan listrik dan energi terbarukan. Head of Business Development DRMA Eko Maryanto menjelaskan bahwa dorongan untuk berinovasi pada teknologi baterai sangat dipengaruhi oleh isu lingkungan global dan kebutuhan akan sistem penyimpanan energi yang lebih efisien.

Menurut Eko, transisi ke lithium adalah bagian dari kontribusi terhadap upaya global dalam menekan pemanasan global. “Kalau kita lihat, persoalannya sekarang adalah lingkungan. Kita bicara soal pemanasan global dan komitmen global seperti COP. Salah satu solusi yang sedang berkembang adalah teknologi lithium sebagai penyimpan energi,” kata Eko. Ia juga menekankan bahwa baterai berbasis lithium tidak hanya dibutuhkan untuk kendaraan listrik, tetapi juga untuk mendukung sistem energi terbarukan, seperti panel surya dan tenaga angin.

LFP Sebagai Tulang Punggung Penyimpanan Energi Massal

Dalam aspek teknis, Eko menjabarkan alasan pemilihan jenis lithium tertentu untuk produk mereka. Meskipun teknologi Nickel Manganese Cobalt (NMC) populer di segmen mobil listrik, DRMA lebih condong pada teknologi Lithium Iron Phosphate (LFP) untuk penggunaan yang lebih luas. Hal ini dikarenakan LFP dinilai lebih stabil dan fleksibel untuk berbagai aplikasi penyimpanan energi.

“Kalau NMC lebih banyak dipakai di mobil listrik, tapi untuk penggunaan yang lebih luas, LFP justru lebih dominan. Di produk kami juga, penggunaan LFP lebih banyak,” kata Eko. Dari sisi performa, baterai lithium memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan aki konvensional, mulai dari daya tahan hingga usia pakai. “Dari performa, aki lithium lebih kuat dan lebih stabil. Umurnya juga bisa jauh lebih panjang, minimal sekitar lima tahun, bahkan bisa lebih lama, dengan bobot yang lebih ringan,” ujarnya.

Diversifikasi Portofolio dan Target Finansial Perusahaan

Selain aspek teknologi, ekspansi ini juga merupakan langkah taktis perusahaan untuk memitigasi risiko bisnis melalui diversifikasi produk. Deputy Head of Business Development DRMA Steven Adrian Santoso mengatakan, perusahaan berupaya mengurangi ketergantungan pada satu lini bisnis tradisional. “Dengan portofolio yang lebih beragam, risiko usaha bisa lebih terkelola,” ujar Steven. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat struktur pendapatan perusahaan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Secara finansial, DRMA sendiri menargetkan penjualan sekitar Rp 6 triliun pada 2025. Target ambisius tersebut diproyeksikan akan ditopang oleh kinerja segmen roda dua dan roda empat yang sudah ada, serta diperkuat oleh meningkatnya kontribusi dari lini bisnis kendaraan listrik dan sektor non-otomotif. Dengan masuknya produsen lokal ke pasar baterai, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain aktif dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

Terkini