Eksperimen Bisnis Kirim Babi Pakai Drone Picu Listrik Padam

Senin, 09 Februari 2026 | 10:32:17 WIB
Eksperimen Bisnis Kirim Babi Pakai Drone Picu Listrik Padam

JAKARTA - Pemanfaatan teknologi pesawat nirawak atau drone di sektor agrikultur seharusnya menjadi solusi efisiensi, namun di tangan yang salah, inovasi ini justru bisa menjadi pemicu petaka infrastruktur. Sebuah insiden unik sekaligus merugikan terjadi di pedalaman Provinsi Sichuan, China, di mana ambisi seorang petani untuk memodernisasi cara kerja tradisional berakhir dengan pemadaman listrik massal. Alih-alih menghemat waktu dan biaya, upaya seorang petani di China mengirim seekor babi dengan pesawat nirawak justru mengakibatkan listrik sekampung padam.

Insiden babi terbang itu terjadi 24 Januari 2026 di pedalaman dusun Tongjiang, Provinsi Sichuan. Fenomena ini menjadi pengingat keras bahwa adopsi teknologi tanpa pemahaman regulasi dan kapasitas alat dapat menimbulkan kerugian materiil yang tidak sedikit. Petani di pedalaman China memang sudah terbiasa menggunakan pesawat nirawak untuk mengirim barang. Namun, kali ini, di luar kelaziman, seekor babi hidup dicoba dikirim dengan pesawat nirawak.

Modus Pengiriman Ternak yang Berakhir Tragis

Motivasi di balik tindakan nekat ini sebenarnya sederhana, yakni keinginan untuk memangkas jalur logistik konvensional yang dianggap lambat. Dilaporkan Asia One pada 6 Februari 2026, petani itu bermaksud mengirim babi tersebut ke tukang jagal dengan menggunakan pesawat nirawak. Pikirnya, hemat waktu dan biaya. Tanpa mempertimbangkan aspek keselamatan penerbangan maupun kesejahteraan hewan, prosedur pengiriman pun dilakukan secara mandiri dan amatir.

Babi malang itu ditelentangkan lalu keempat kakinya diiikat tali yang ditautkan ke pesawat nirawak. Singkat cerita, pesawat nirawak pun lepas landas. Sebuah pemandangan yang tak lazim bagi warga sekitar, di mana seekor ternak besar melayang di udara hanya dengan topangan mesin nirawak yang kapasitasnya tidak dirancang untuk muatan makhluk hidup seberat itu.

Kabel Listrik dan Matinya Aliran Energi Desa

Petaka dimulai ketika drone tersebut melintasi area pemukiman yang padat dengan instalasi kabel udara. Semula penerbangan berjalan lancar, sampai ke suatu titik terdapat jalur kabel listrik. Celaka, tali penghubung pesawat nirawak dan si babi tersangkut kabel listrik itu. Akibat beban yang tidak stabil dan rontaan hewan, situasi menjadi kacau di ketinggian. Babi meronta-ronta tergantung di antara kabel listrik dan permukaan tanah.

Gesekan dan beban berlebih pada kabel tersebut memicu gangguan sistem distribusi energi di wilayah tersebut. Keadaan itu mengakibatkan listrik terputus di desa si petani. Sadar akan kekacauan yang ditimbulkannya, akhirnya si petani menelepon layanan gangguan listrik. Tim teknis harus dikerahkan dalam skala besar untuk menangani "gangguan" yang tidak biasa ini. Petugas listrik sebanyak 12 orang segera tiba dan memperbaiki saluran listrik dan menurunkan si babi dan pesawat nirawak yang tersangkut.

Analisis Kerugian dan Konsekuensi Pelanggaran Hukum

Dampak dari kecerobohan ini tidak hanya dirasakan oleh si babi, tetapi juga seluruh warga desa yang harus kehilangan akses energi selama hampir setengah hari. Insiden itu mengakibatkan listrik padam selama 10 jam di desa si petani. Angka kerugian yang muncul pun cukup mengejutkan bagi skala ekonomi perdesaan. Menurut petugas perusahaan listrik setempat, insiden itu menimbulkan kerugian hingga 10.000 yuan (Rp 23,5 juta).

Kejadian ini pun memancing reaksi luas, terutama setelah rekaman visualnya tersebar di jagat maya. Warganet yang menyaksikan video babi terbang itu berkomentar, seperti pepatah Amerika: melihat babi terbang… Ini terjadi betulan! Namun, di balik komentar jenaka tersebut, ada pelanggaran hukum serius yang sedang diproses oleh pihak berwajib setempat.

Aparat setempat menyelidiki kasus tersebut dan menyebut si petani melanggar aturan zona terbang pesawat nirawak. Selain masalah zona terbang, aspek teknis penggunaan alat juga menjadi sorotan tajam. Pesawat nirawak tersebut juga kelebihan beban muatan. Hingga saat ini, otoritas tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai nasib akhir si hewan. Tidak diketahui apakah babi malang itu akhirnya jadi dikirim ke tukang jagal sesuai dengan skenario awal si petani. Kasus ini kini menjadi pelajaran penting di Sichuan mengenai pentingnya sertifikasi dan kepatuhan terhadap aturan ruang udara, bahkan bagi para pelaku bisnis agrikultur kecil di pedalaman.

Terkini