Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 5 Februari 2026 Terhadap Dolar AS

Kamis, 05 Februari 2026 | 09:17:29 WIB
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 5 Februari 2026 Terhadap Dolar AS

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Kamis, 5 Februari 2026.

Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Tekanan eksternal yang datang bersamaan dari sisi geopolitik dan kebijakan moneter global menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang domestik.

Pelaku pasar menilai rupiah masih berada dalam fase rentan, seiring menguatnya dolar AS yang didorong oleh sentimen global. Kondisi ini membuat pasar valuta asing bergerak lebih berhati-hati, terutama menjelang rilis lanjutan data ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik yang masih bergejolak.

Rupiah Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif

Pada perdagangan hari ini, Kamis, 5 Februari 2026, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.800 per dolar AS. Proyeksi tersebut mencerminkan tekanan yang masih cukup kuat terhadap mata uang Garuda di tengah dominasi dolar AS di pasar global.

Sebelumnya, pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, rupiah tercatat ditutup melemah 23 poin ke level Rp16.776 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS yang didorong oleh berbagai sentimen global, baik dari sisi geopolitik maupun ekonomi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga sangat sensitif terhadap perkembangan global. Fluktuasi yang terjadi diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek, seiring pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan bank sentral AS dan dinamika geopolitik internasional.

Ketegangan AS–Iran Tekan Pergerakan Rupiah

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa pada perdagangan sebelumnya, penguatan dolar AS dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen tersebut mencuat setelah militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut bergerak agresif mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab.

Perkembangan ini memicu kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Situasi geopolitik yang memanas cenderung mendorong pelaku pasar untuk mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di sisi lain, Iran dilaporkan menuntut agar pembicaraan dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan ini digelar di Oman, bukan di Turki. Selain itu, Iran juga membatasi agenda perundingan hanya pada isu nuklir. Sikap tersebut dinilai memperumit proses diplomasi yang sebelumnya sudah berjalan cukup alot.

Pelaku pasar global pun terus mencermati perkembangan negosiasi AS–Iran sebagai salah satu faktor risiko utama yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan.

Data Ekonomi AS Perkuat Dolar

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga ditopang oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang solid. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM) tercatat melonjak ke level 52,6 pada Januari, dari sebelumnya 47,9 pada Desember. Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar dan menunjukkan ekspansi sektor manufaktur AS.

Sementara itu, PMI Manufaktur Global S&P juga mengalami kenaikan tipis menjadi 52,4 dari level sebelumnya 51,9. Data-data ini memperkuat persepsi pasar bahwa perekonomian Amerika Serikat masih berada dalam kondisi yang cukup kuat, meskipun sebelumnya sempat diwarnai kekhawatiran perlambatan.

Kondisi ekonomi AS yang solid memberikan ruang bagi dolar untuk terus menguat, sekaligus menekan mata uang lainnya. Bagi rupiah, penguatan dolar AS menjadi tantangan tersendiri, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Ekspektasi Kebijakan The Fed Masih Menjadi Kunci

Data ekonomi yang kuat tersebut turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve. Pasar menilai The Fed masih memiliki ruang untuk bersikap lebih hati-hati sebelum melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter.

Ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat pun mulai berkurang, terutama setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Januari. Berdasarkan alat CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga pada pertemuan Juni saat ini diperkirakan berada di kisaran 66%.

Perubahan ekspektasi ini berdampak langsung pada pergerakan dolar AS di pasar global. Selama prospek penurunan suku bunga masih terbatas, dolar cenderung bertahan kuat, sehingga memberikan tekanan lanjutan terhadap rupiah.

Dengan kombinasi faktor geopolitik, data ekonomi AS yang solid, serta arah kebijakan moneter The Fed, pergerakan rupiah pada hari ini diperkirakan masih akan dibayangi tekanan. Pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan global secara saksama, mengingat sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arah nilai tukar rupiah ke depan.

Terkini