Kenaikan Harga Batu Bara Periode I Februari 2026 Cukup Tinggi

Selasa, 03 Februari 2026 | 12:47:57 WIB
Kenaikan Harga Batu Bara Periode I Februari 2026 Cukup Tinggi

JAKARTA - Harga batu bara acuan (HBA) untuk periode I Februari 2026 menunjukkan tren kenaikan signifikan. 

Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 47.K/MB.01/MEM.B/2026, HBA naik dari 104,03 dolar AS per ton pada periode II Januari 2026 menjadi 106,11 dolar AS per ton pada awal Februari.

Kenaikan ini berlaku untuk batu bara dengan nilai kalor 6.322 kcal/kg dan menjadi patokan utama bagi perdagangan domestik maupun ekspor. Selain HBA, kategori HBA I, HBA II, dan HBA III juga mengalami perubahan harga sesuai nilai kalori masing-masing.

Peningkatan harga ini tidak terlepas dari dinamika pasar global, di mana permintaan batu bara masih tinggi. Kenaikan HBA diharapkan dapat memberi sinyal positif bagi pelaku industri batu bara nasional, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi sektor energi.

Rincian Harga Batu Bara Per Kategori

Dalam keputusan resmi Kementerian ESDM, HBA dibagi berdasarkan nilai kalori batu bara sebagai berikut:

HBA (6.322 GAR): 106,11 dolar AS per ton, naik dari 102,03 dolar AS periode sebelumnya.

HBA I (5.300 GAR): 73,96 dolar AS per ton, naik dari 71,61 dolar AS.

HBA II (4.100 GAR): 48,21 dolar AS per ton, sedikit turun dari 48,39 dolar AS.

HBA III (3.400 GAR): 35,83 dolar AS per ton, naik dari 35,38 dolar AS.

Perubahan harga ini berlaku untuk periode 1 Februari hingga 14 Februari 2026. Kenaikan HBA utama terjadi pada batu bara dengan nilai kalor tinggi, mencerminkan permintaan yang lebih tinggi untuk kualitas terbaik.

Upaya Pemangkasan Produksi Batu Bara

Pada awal 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia akan memangkas produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton, turun hampir 200 juta ton dibandingkan produksi 2025 sebesar 790 juta ton. Langkah ini bertujuan menjaga harga tetap kompetitif di pasar global.

Indonesia merupakan salah satu pemain utama dalam perdagangan batu bara global, dengan kontribusi mencapai 514 juta ton dari total 1,3 miliar ton per tahun. Pemangkasan produksi diharapkan dapat menyeimbangkan pasokan, sehingga harga tidak jatuh akibat oversupply.

Bahlil menekankan pentingnya strategi jangka panjang dalam pengelolaan sumber daya alam. “Supaya harga bagus dan tambang ini juga kita harus wariskan kepada anak cucu kita. Jadi jangan cara berpikir kita mengelola sumber daya alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang,” ujarnya.

Dampak Kenaikan HBA bagi Industri dan Pasar

Kenaikan HBA periode I Februari 2026 berdampak langsung pada sektor energi domestik, khususnya pembangkit listrik dan industri semen yang menggunakan batu bara sebagai bahan baku. Industri ini perlu menyesuaikan kontrak pembelian dan biaya operasional untuk mengantisipasi kenaikan harga.

Selain itu, ekspor batu bara Indonesia juga menjadi lebih menguntungkan. Dengan harga HBA yang naik, produsen dapat memaksimalkan pendapatan dari pasar luar negeri, terutama di negara-negara dengan permintaan tinggi seperti China, India, dan Jepang.

Peran HBA dalam Perdagangan Domestik

HBA bukan hanya menjadi patokan ekspor, tetapi juga menentukan harga jual batu bara di dalam negeri. Perusahaan pertambangan wajib menyesuaikan kontrak penjualan dengan HBA terbaru, termasuk untuk kontrak batu bara dengan nilai kalor berbeda.

Kenaikan HBA periode I Februari 2026 menjadi tolok ukur evaluasi bagi perusahaan, sehingga strategi produksi dan distribusi dapat dirancang lebih efisien. Selain itu, HBA berperan dalam perhitungan pajak, royalti, dan tarif bea keluar batu bara.

Prediksi Tren Harga Selanjutnya

Dengan pemangkasan produksi dan stabilitas permintaan global, para analis memprediksi harga HBA akan tetap tinggi hingga kuartal pertama 2026. Namun, fluktuasi harga internasional tetap menjadi faktor penentu, terutama jika terjadi perubahan drastis pada konsumsi energi global atau kebijakan perdagangan utama negara importir.

Industri pertambangan di Indonesia diminta tetap adaptif, memastikan produksi sesuai target tanpa menurunkan kualitas batu bara. Hal ini penting agar Indonesia tetap menjadi pemain utama di pasar batu bara dunia.

Transparansi dan Keberlanjutan Sumber Daya

Pemerintah menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Pemangkasan produksi bukan hanya soal harga, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan cadangan energi untuk generasi mendatang.

Dengan strategi ini, Indonesia diharapkan dapat menjaga posisi kompetitif di pasar global sekaligus memastikan ketersediaan batu bara bagi kebutuhan nasional dalam jangka panjang.

Harga batu bara acuan periode I Februari 2026 mengalami kenaikan signifikan, tercermin pada HBA sebesar 106,11 dolar AS per ton. Pemangkasan produksi oleh pemerintah bertujuan menjaga harga tetap tinggi dan stabil di pasar global.

Dengan kenaikan HBA, industri energi domestik, kontraktor, dan eksportir perlu menyesuaikan strategi operasional. Kementerian ESDM menekankan pengelolaan yang berkelanjutan untuk memastikan sumber daya alam dapat diwariskan ke generasi berikutnya.

Transparansi harga dan perencanaan produksi menjadi kunci agar sektor batu bara Indonesia tetap kuat menghadapi dinamika pasar internasional.

Terkini