JAKARTA - Fluktuasi harga pangan nasional pada Senin, 2 Februari 2026, menunjukkan kondisi pasar yang cukup dinamis dan beragam.
Di tengah penurunan harga beberapa komoditas utama seperti beras dan bawang merah, beberapa bahan pangan lainnya justru mengalami kenaikan harga.
Pergerakan ini menjadi indikasi bagaimana faktor pasokan, permintaan, dan kondisi distribusi turut memengaruhi stabilitas harga pangan nasional, terutama menjelang musim perayaan besar.
Data resmi dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) pukul 07.57 WIB hari ini mencatat adanya pergeseran harga yang cukup signifikan pada beberapa komoditas pokok dan sumber protein yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Penurunan Harga Beras dan Penyebabnya
Beras, sebagai bahan pokok utama masyarakat Indonesia, mengalami penurunan harga cukup signifikan. Beras premium turun sebesar 1,85% menjadi Rp15.270 per kilogram, diikuti oleh beras medium yang turun 2,46% menjadi Rp13.061 per kilogram.
Penurunan juga terjadi pada beras premium non-SPHP sebesar 1,03% menjadi Rp13.793 per kilogram. Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) turun 1,58% menjadi Rp12.267 per kilogram, sementara beras khusus lokal mencatat penurunan terbesar hingga 10%, menjadi Rp14.150 per kilogram.
Penurunan harga beras ini menunjukkan pasokan yang relatif stabil di pasar, didukung oleh upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan stok nasional agar tidak terjadi lonjakan harga di musim-musim tertentu. Hal ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran 2026.
Variasi Harga Sayur dan Cabai
Komoditas sayuran seperti bawang merah juga mengalami penurunan harga sebesar 2,51% menjadi Rp39.289 per kilogram. Namun, tidak semua sayuran menunjukkan tren yang sama. Harga bawang putih bonggol justru naik 1,42% menjadi Rp39.007 per kilogram.
Harga cabai memperlihatkan pola yang beragam. Cabai merah keriting mengalami kenaikan harga tipis sebesar 0,29% menjadi Rp37.575 per kilogram. Sementara itu, cabai merah besar mengalami penurunan tajam sebesar 13,55% menjadi Rp32.538 per kilogram, dan cabai rawit merah turun 8,14% menjadi Rp52.667 per kilogram.
Perbedaan tren harga sayur dan cabai ini bisa disebabkan oleh kondisi pasokan masing-masing komoditas yang berbeda, termasuk faktor cuaca, distribusi, dan permintaan pasar. Kementerian Perdagangan terus memantau dinamika ini untuk memastikan kestabilan harga dan kelancaran distribusi.
Kenaikan Harga Telur dan Tren Harga Protein Hewani Lainnya
Sumber protein hewani menunjukkan tren harga yang beragam. Harga telur ayam mengalami kenaikan sebesar 2,13% menjadi Rp30.983 per kilogram. Kenaikan ini bisa jadi dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan konsumen dan biaya produksi.
Di sisi lain, harga daging ayam justru turun cukup signifikan sebesar 6,70% menjadi Rp36.630 per kilogram. Penurunan harga ini bisa jadi karena ketersediaan pasokan yang lebih banyak, sehingga mampu menekan harga di pasar.
Pergerakan Harga Daging Sapi dan Kerbau
Harga daging sapi murni mengalami kenaikan sebesar 1,61%, menjadi Rp138.333 per kilogram. Sementara itu, harga daging kerbau lokal naik cukup signifikan sebesar 5,83%. Namun, daging kerbau beku (impor) justru turun 7,62% menjadi Rp102.500 per kilogram.
Perbedaan harga antara daging lokal dan impor ini menunjukkan pengaruh kebijakan impor serta tingkat ketersediaan stok yang berbeda-beda. Konsumen bisa memilih sesuai kebutuhan dan kemampuan daya beli.
Penurunan Harga Ikan Laut
Harga ikan laut juga mengalami tren penurunan. Ikan kembung turun sebesar 6,39% menjadi Rp41.543 per kilogram, ikan tongkol turun 4,52% menjadi Rp34.892 per kilogram, dan ikan bandeng turun 6,52% menjadi Rp34.528 per kilogram.
Penurunan harga ikan laut ini diduga berasal dari hasil tangkapan yang membaik dan distribusi yang lancar, sehingga pasokan lebih melimpah dan menekan harga pasar.
Turunnya Harga Minyak Goreng, Naiknya Harga Gula Konsumsi
Semua jenis minyak goreng mengalami penurunan harga. Minyak goreng kemasan turun 2,69% menjadi Rp20.484 per liter, minyak goreng curah turun 4,68% menjadi Rp16.835 per liter, dan minyak goreng merk Minyakita turun 0,64% menjadi Rp17.443 per liter.
Sebaliknya, harga gula konsumsi naik sebesar 0,52% menjadi Rp18.257 per kilogram. Kenaikan harga gula biasanya dipicu oleh permintaan yang meningkat pada saat-saat tertentu, seperti mendekati perayaan atau musim panen yang menurun.
Harga garam konsumsi sedikit turun 0,10% menjadi Rp11.472 per kilogram, menunjukkan stabilitas harga bahan baku dasar ini.
Penurunan Harga Tepung Terigu
Harga tepung terigu curah turun 4,00% menjadi Rp9.283 per kilogram, sedangkan terigu kemasan juga turun 3,52% menjadi Rp12.431 per kilogram. Penurunan harga tepung terigu ini penting untuk menjaga kestabilan harga bahan baku industri makanan dan kebutuhan rumah tangga.
Secara keseluruhan, harga pangan nasional pada 2 Februari 2026 menunjukkan kondisi pasar yang dinamis dengan tren harga yang bervariasi antar komoditas.
Penurunan harga beras dan beberapa bahan pokok menjadi kabar baik bagi konsumen, sementara kenaikan harga telur dan gula mengingatkan perlunya pengawasan ketat agar tidak memberatkan masyarakat.
Pemerintah dan Badan Pangan Nasional terus berupaya menjaga stabilitas harga dengan memastikan ketersediaan stok dan kelancaran distribusi, khususnya menjelang momen penting seperti Ramadan dan Lebaran 2026. Kondisi ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat dan mencegah gejolak harga yang bisa berdampak sosial ekonomi.