Bahaya Tersembunyi Menahan Mobil Matik dengan Gas di Tanjakan

Senin, 02 Februari 2026 | 09:12:50 WIB
Bahaya Tersembunyi Menahan Mobil Matik dengan Gas di Tanjakan

JAKARTA - Bagi pengemudi mobil bertransmisi otomatis, menghadapi kemacetan di jalan menanjak sering kali menjadi tantangan tersendiri. Dalam situasi lalu lintas yang "stop and go", tidak sedikit pengemudi yang memilih cara instan untuk menjaga posisi mobil agar tidak mundur: yakni dengan menyeimbangkan pedal gas tanpa menginjak rem. Meskipun metode ini dirasa praktis dan memudahkan saat harus melaju kembali, di balik kenyamanan sesaat itu tersimpan risiko besar yang mengancam kesehatan komponen transmisi hingga keselamatan jiwa.

Kebiasaan menahan laju kendaraan menggunakan tenaga mesin di tanjakan memaksa sistem kopling di dalam transmisi bekerja secara parsial atau "setengah menggigit". Dalam kondisi ini, komponen internal mengalami gesekan yang sangat intens tanpa adanya sistem pendinginan yang memadai. Jika dilakukan secara berulang, terutama saat kondisi jalan padat, kebiasaan buruk ini akan mempercepat kerusakan permanen pada sistem mekanis kendaraan.

Dampak Buruk pada Pelumasan dan Komponen Transmisi

Kerusakan yang paling fatal dimulai dari suhu operasional yang tidak terkendali. Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten, memberikan peringatan keras bahwa gesekan yang terjadi secara terus-menerus saat menahan gas akan memicu lonjakan suhu oli transmisi secara drastis. Ketika oli transmisi mengalami panas berlebih (overheat), fungsi utamanya sebagai pelumas dan pelindung komponen internal akan hilang.

“Dalam jangka panjang, panas berlebih mempercepat keausan kopling transmisi. Risiko selip transmisi dan penurunan performa pun menjadi lebih besar,” jelas Imun saat memberikan keterangan. Masalah ini ternyata tidak hanya eksklusif milik mobil matik. Mobil dengan transmisi manual pun akan mengalami dampak serupa, di mana kampas kopling akan cepat aus bahkan hingga memicu bau gosong yang menyengat di area kabin.

Biaya Perbaikan yang Tinggi dan Risiko Kerusakan Sistemik

Salah satu alasan mengapa pengemudi harus segera menghentikan kebiasaan ini adalah besarnya biaya perbaikan yang mungkin timbul. Berbeda dengan mobil manual yang penggantian komponennya cenderung lebih sederhana, kerusakan pada sistem transmisi otomatis membutuhkan penanganan yang jauh lebih kompleks dan mahal.

Menurut Imun, jika kerusakan sudah terjadi pada mobil matik, mekanik biasanya harus melakukan tindakan "turun transmisi". Kerusakan tidak hanya akan terbatas pada kampas atau pegas kopling saja, melainkan bisa merembet ke komponen pendukung lainnya di dalam kelompok kopling. Dampak mekanis ini juga merembet ke bagian lain seperti engine mounting. Getaran mesin yang berlebihan saat mobil dipaksa diam melawan gravitasi memberikan beban ekstra pada komponen penyangga mesin tersebut, yang jika rusak akan menyebabkan getaran hebat terasa hingga ke dalam kabin.

Pemborosan Bahan Bakar dan Ancaman Keselamatan Berkendara

Selain aspek mekanis, kebiasaan menahan gas di tanjakan juga sangat merugikan dari sisi finansial harian. Mesin dipaksa bekerja pada putaran tinggi untuk melawan gaya gravitasi, namun tenaga yang dihasilkan tidak dikonversi menjadi gerakan maju. Akibatnya, konsumsi bahan bakar akan meningkat drastis tanpa hasil yang sebanding.

Dari sisi keselamatan, risiko kecelakaan pun meningkat tajam. Mobil yang ditahan hanya dengan pedal gas memiliki potensi untuk "meloncat" maju secara tiba-tiba jika pengemudi tidak sengaja memberikan tekanan gas yang tidak stabil atau terlalu dalam. Kondisi ini tentu sangat berbahaya jika jarak antar kendaraan di tanjakan cukup rapat. Pengemudi perlu waspada terhadap gejala awal kerusakan seperti aroma terbakar, tarikan mobil yang terasa berat saat akselerasi, hingga perpindahan gigi yang terasa kasar atau menyentak.

Metode Berhenti yang Benar dan Pemanfaatan Teknologi Modern

Untuk menghindari kerugian materi dan risiko bahaya, pengemudi disarankan kembali pada teknik dasar yang benar. Penggunaan rem adalah kunci utama. Imun menyarankan pengemudi untuk menggunakan rem kaki untuk berhenti dalam durasi singkat, dan beralih ke rem tangan atau parking brake jika harus berhenti lebih lama di tanjakan. Dengan cara ini, transmisi berada dalam posisi bebas beban dan mesin tidak bekerja secara berlebihan.

“Cara yang lebih aman dan benar adalah menggunakan rem kaki untuk berhenti sesaat, serta rem tangan atau parking brake untuk berhenti lebih lama di tanjakan, pedal gas bisa dimainkan lagi ketika hendak melaju kembali,” tegas Imun.

Bagi pemilik mobil keluaran terbaru, fitur Hill Start Assist (HSA) dapat menjadi asisten yang sangat membantu. Fitur ini dirancang untuk menahan posisi mobil selama beberapa detik setelah rem dilepas, memberikan waktu bagi pengemudi untuk memindahkan kaki ke pedal gas tanpa khawatir mobil mundur. Dengan memanfaatkan teknologi dan teknik pengereman yang tepat, usia pakai kendaraan akan lebih panjang, konsumsi BBM lebih irit, dan perjalanan pun menjadi jauh lebih aman bagi seluruh pengguna jalan.

Terkini