Analisis Saham BBRI: Potensi Rebound di Tengah Valuasi yang Murah

Kamis, 29 Januari 2026 | 11:38:00 WIB
Analisis Saham BBRI: Potensi Rebound di Tengah Valuasi yang Murah

JAKARTA - Dinamika pasar modal Indonesia kembali diuji oleh volatilitas tinggi yang memicu koreksi tajam pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Penurunan indeks yang terjadi pada Rabu ini sebagian besar dipicu oleh sentimen terkait penyesuaian indeks MSCI, yang menyebabkan banyak saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) mengalami tekanan jual. Namun, di balik koreksi pasar tersebut, muncul peluang menarik bagi para investor nilai yang mencari aset berkualitas dengan harga diskon.

Salah satu raksasa perbankan tanah air, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI, kini menjadi sorotan karena valuasinya yang dianggap sudah masuk ke kategori murah. Meskipun harga sahamnya mengalami tekanan selaras dengan kondisi pasar, fundamental perusahaan tetap menunjukkan resiliensi yang kuat, menjadikannya opsi investasi yang menarik bagi mereka yang mengincar pertumbuhan jangka panjang.

Valuasi Rendah dengan Performa ROE yang Solid

Salah satu indikator utama yang menarik perhatian para analis adalah kombinasi antara rasio valuasi yang rendah dengan tingkat pengembalian ekuitas yang tetap kompetitif. Meskipun berada dalam fase harga yang "murah", BBRI dinilai masih memiliki return on equity (ROE) yang baik, yang mencerminkan efisiensi bank dalam menghasilkan laba dari modal yang dimiliki.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Stockbit Sekuritas pada Rabu (28/1/2026), rasio Price to Earnings (PE) saham BBRI saat ini, dihitung berdasarkan trailing twelve months (TTM), telah menyentuh angka 9,7 kali. Level PE di bawah dua digit ini sering kali dianggap sebagai titik masuk yang menarik bagi saham perbankan sebesar BRI, terutama jika dibandingkan dengan rata-rata historisnya.

Daftar 8 Saham Big Cap dengan Valuasi Menarik

Hingga berita ini ditayangkan, pelemahan IHSG telah menyaring setidaknya delapan saham dengan kapitalisasi pasar jumbo yang kini diperdagangkan pada rasio PE yang relatif rendah, namun tetap mempertahankan performa ROE yang solid. Fenomena ini memberikan peta jalan bagi investor untuk melakukan pemilihan saham (stock picking) di tengah ketidakpastian pasar.

Berikut adalah daftar delapan saham big cap tersebut berdasarkan urutan rasio PE terendah:

Adaro Andalan Indonesia (AADI): PE 5 kali.

United Tractors (UNTR): PE 5,8 kali.

Astra International (ASII): PE 7,5 kali.

Indofood Sukses Makmur (INDF): PE 7,5 kali.

Alamtri Resources Indonesia (ADRO): PE 7,8 kali.

Bank Negara Indonesia (BBNI): PE 8 kali.

Bank Rakyat Indonesia (BBRI): PE 9,7 kali.

Perusahaan Gas Negara (PGAS): PE 9,9 kali.

Kehadiran BBRI dalam daftar ini menunjukkan bahwa tekanan pasar saat ini telah membawa saham perbankan pelat merah tersebut ke level harga yang lebih terjangkau bagi investor ritel maupun institusi.

Proyeksi Pemulihan Laba dan Kualitas Aset

Oso Sekuritas, dalam laporan Equity Market Outlook 2026, menempatkan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI sebagai salah satu saham pilihan utama untuk tahun ini. Pandangan optimistis ini bukan tanpa alasan; analis melihat adanya potensi pemulihan kinerja keuangan yang kuat dalam jangka menengah.

Faktor utama yang mendasari optimisme ini adalah perbaikan kualitas aset. Sebelumnya, laju pertumbuhan laba BBRI sempat terhambat oleh beban provisi yang meningkat serta penyempitan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) yang lebih ketat. Namun, dengan langkah-langkah mitigasi risiko yang tepat, prospek laba ke depan diperkirakan akan menunjukkan tren pemulihan yang signifikan.

Rekomendasi Analis dan Target Harga Mendatang

Melihat kombinasi antara valuasi yang sedang murah dan fundamental yang mulai pulih, Oso Sekuritas mengeluarkan pandangan positif bagi para pelaku pasar. Analis menilai bahwa koreksi harga yang terjadi saat ini merupakan kesempatan akumulasi bagi investor yang memiliki horizon investasi menengah hingga panjang.

Broker efek tersebut secara resmi memberikan rekomendasi buy untuk saham BBRI. Tidak hanya memberikan rekomendasi beli, Oso Sekuritas juga menetapkan target harga yang cukup optimistis dalam jangka waktu 12 bulan ke depan, yakni sebesar Rp 4.230 per lembar saham. Target ini mencerminkan keyakinan pasar terhadap kemampuan BRI untuk bangkit kembali seiring dengan stabilnya kondisi makroekonomi dan kualitas kredit perseroan.

Dengan kondisi IHSG yang masih bergerak dinamis, strategi pemilihan saham berbasis nilai seperti ini menjadi sangat krusial. BBRI, dengan basis nasabah mikro yang luas dan integrasi ekosistem melalui Super Apps BRImo, tetap menjadi pilar utama dalam portofolio investasi sektor perbankan di Indonesia.

Terkini